Jujur saja, belakangan aku lihat lagi perselisihan soal royalti yang mendadak ramai, respons pertamaku adalah, “Oh, ini lagi.” Kalau dilihat-lihat postingan lama dulu, saat NFT baru viral di 2020, yang diperdebatkan juga soal “apakah kreator harus atau tidak memungut royalti sekunder.” Lalu sekarang gimana? Untuk rebut likuiditas, platform malah langsung memotong royalti, dengan alasan manisnya “biar pasar yang menentukan.” Ironis, ekonomi kreator yang dulu dipromosikan sampai langit-tinggi pada akhirnya tetap saja bergantung pada wajah volume transaksi.



Musim airdrop yang barengan juga begitu. Platform tugasnya bikin anti-sybil, sistem poin bikin para pemburu free reward berasa seperti kerja, seperti lembur. Satu per satu sampai menginjak dini hari buat menyikat interaksi, hasilnya biaya gas malah lebih mahal daripada airdrop-nya. Kadang aku benar-benar merasa, kita di Web3 sibuk bolak-balik, ujung-ujungnya malah cuma jadi sebaris kecil di data trafik platform. Tapi kalau dipikir dari sisi lain, setidaknya perdebatan soal royalti menunjukkan kreator masih berusaha merebut ruang bicara, dan mekanisme airdrop juga terus berevolusi. Walau prosesnya melelahkan, tetap lebih baik daripada jadi kolam yang stagnan.

Sudahlah, sementara segini dulu. Soalnya aku yang jadi “hijau lama” begini, makin sering lihat makin terbiasa. Tugas yang harus dikerjakan ya tetap harus dikerjakan, cuma jangan terlalu ngotot.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan