Baru aja nemu demo AI Agent yang lagi berinteraksi di chain, kelihatannya cukup mulus, tapi kalau dipikir-pikir, banyak tahap tetap perlu ada manusia yang menutup celah. Misalnya tumpukan aturan anti-sybil di platform tugas airdrop—AI bisa bantu mengerjakan interaksi, tapi kalau ketemu verifikasi seperti “unggah selfie memegang KTP”, gimana cara dia ngatasinya? Tentu saja tetap harus kamu sendiri yang ambil HP lalu foto. Lalu sistem poin; para pemburu “ngambil gratisan” sekarang lagi ngebut saingin ketat kayak absen masuk kantor. AI bisa otomatis ambil tugas, tapi kalau menghadapi aturan baru, verifikasi baru, atau node RPC yang meledak, tetap harus ganti secara manual. Intinya, sehebat apa pun teknologinya, penilaian soal manusia dan situasi mendadak tetap perlu ada yang mengawasi.



Ngomong-ngomong, beberapa waktu belakangan aku lihat temen di grup mengeluh: tugas berbasis poin mentok di “anti-sybil”, AI beresnya nggak bisa, jadi tetap harus kamu yang isiin captcha sendiri. Lucu sih.

Kalau dibilang jujur, AI Agent bisa mengoptimalkan alur, tapi urusan seperti tata kelola di chain, keamanan, audit, dan konsensus komunitas yang bernuansa “lebih manusiawi” itu, mesin masih jauh tertinggal. Seperti cerita boom-bust dari para “tukang potong” lama yang inget-inget zaman dulu, AI bisa mengulang, tapi rasa sakit dari “survivorship bias” itu dia nggak bisa pelajari. Yaudah, segini dulu—aku lanjut dengerin radio tua.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan