$OWL



Catatan perjalanan ke kota-kota kecil paling romantis di Italia

Babak terdepan 128

I. Sebelum berangkat: cara lain membayangkan “romansa”

Sebelum pergi ke Italia, aku mengira romansa adalah gondola di Venesia, adalah kolam air permintaan di Roma, adalah matahari terbenam di Firenze. Semuanya tidak salah, tetapi ketika aku benar-benar menginjakkan kaki di tanah ini, barulah kusadari bahwa romansa Italia tidak pernah bersembunyi di kota-kota besar yang dipenuhi wisatawan.

Romansa itu ada di tepian danau di utara, di tepi tebing di selatan, di kedalaman perbukitan Toscana—di kota-kota kecil yang bahkan mungkin tidak selalu ditandai di peta. Di tempat-tempat itu, waktu berjalan sangat pelan, sampai kau bisa mendengar detak jantungmu sendiri.

Maka, aku memutuskan melakukan perjalanan untuk mencari kota-kota kecil paling romantis di Italia.

II. Orta San Giulio: “mutiara abu-abu” ala Balzac

Pemberhentian pertama, aku memilih Orta San Giulio.

Kota ini tersembunyi di kawasan Piemonte, Italia utara, terletak di tepi Danau Orta. Luasnya kurang dari tujuh kilometer persegi, kecil seperti sebutir mutiara yang dengan lembut diangkat oleh air danau. Penulis besar Prancis Honoré de Balzac pernah menyebutnya sebagai “sebutir mutiara abu-abu di keranjang hijau”—perumpamaan itu benar-benar sangat tepat.

Aku tiba pada waktu senja. Matahari sore mewarnai seluruh kota dengan keemasan dan merah muda; bangunan tampak lembut dan memikat di bawah sisa cahaya. Saat berjalan di lorong-lorong kecil yang berkelok, batu-batu pijak di bawah kakiku sudah dihaluskan hingga berkilau oleh langkah kaki ratusan tahun. Rumah-rumah dari abad ke-15 dan ke-16 berdiri dengan tenang di kedua sisi, gaya arsitekturnya tetap sama meski diterpa berabad-abad hujan dan angin.

Bagian paling menawan dari kota kecil ini adalah Piazza Motta, yang menghadap danau. Di tengah alun-alun berdiri sebuah bangunan tua dengan beranda berkolom—istana komunitas pada masa kota otonom kuno; dinding luarnya berwarna kuning hangat, muralnya indah dan tampak pudar, dengan jejak sejarah yang bisa ditelusuri hingga tahun 1582. Aku duduk di anak tangga dekat alun-alun, menghadap Danau Orta yang tenang seperti cermin. Di seberang, Pulau San Giulio menyalakan lampu, berkedip kecil-kecil, seperti ikut menyalakan seberkas kehangatan di dalam hati setiap orang yang lewat.

Dibandingkan pengembangan komersial di Danau Como dan Danau Maggiore, Danau Orta tetap mempertahankan wujudnya yang murni, tenang, dan alami. Di sini tidak ada kerumunan wisatawan; hanya sesekali orang lokal berjalan sambil tersenyum tenang. Di alun-alun, di bawah sebuah patung ada tulisan yang kurang lebih berbunyi: “Jika dilihat dari bingkaiku, itulah dunia dengan pemandangan terindah menurutku.”

Aku tiba-tiba paham satu hal—romansa bukanlah sesuatu yang bisa dipertontonkan, melainkan momen yang kau nikmati sendirian.

III. Sirmione: mimpi Danau Garda di hamparan bunga ungu

Dari Orta San Giulio ke arah timur, menyeberang melalui Lombardia, aku tiba di Sirmione, sebuah kota di tepi Danau Garda.

Kota ini dibangun di ujung sebuah tanjung sempit yang memanjang dari tepi danau hingga ke tengah danau sepanjang empat kilometer. Untuk masuk ke tanjung, ada sebuah jembatan yang harus dilewati; di dekat kepala jembatan berdiri benteng tua keluarga Scaliger, dindingnya yang lapuk berbicara tentang usia tuanya.

Namun hal yang paling membuatku terpesona di Sirmione adalah hamparan bunga ungu yang memenuhi setiap dinding dan halaman. Warna ungu melambangkan misteri dan romansa—ketika kau benar-benar tiba di sini, kau akan terkejut oleh derasnya warna ungu. Di depan setiap rumah ada tanaman, di setiap jendela bunga-bunga bermekaran; ketika angin sepoi-sepoi bertiup, hanya aroma yang memenuhi udara.

Aku berjalan pelan di sepanjang jalan batu bata khas kota ini, seolah setiap jalur dapat mengarah ke Danau Garda. Danau Garda adalah danau pedalaman terbesar di Italia; airnya adalah hijau “hijau nenek” yang memabukkan. Di antara pemandangan danau dan pegunungan, kota ini tampak tenang sekaligus penuh semangat.

Ada yang menggambarkan Sirmione seperti ini: “Romansa kota kecil ini belum terlalu mirip romansa Italia pada umumnya yang serba santai. Di sini bunga bermekaran di mana-mana, matahari cerah, penuh energi, sekaligus tampak begitu tenang. Saat kau berjalan santai di jalan batu bata kota ini, menyusuri lorong-lorong sempit, menikmati jalan-jalan di tengah hamparan bunga, dan berlama-lama menikmati pemandangan danau dan pegunungan, seolah kau memasuki surga dunia yang ada dalam mimpi.”

Aku sangat setuju. Di sini, tak jelas siapa penduduk dan siapa wisatawan; semua orang hanya sedang menikmati perasaan romansa yang santai. Segalanya tenang tersimpan di dalam waktu.

IV. Verona: percaya pada cinta di bawah balkon Juliet

Setelah meninggalkan Sirmione, aku melanjutkan perjalanan ke timur dan tiba di Verona.

Kota ini dikenal sebagai “Kota Cinta”—karena Romeo and Juliet karya Shakespeare, Verona menjadi salah satu tempat paling romantis di seluruh dunia. Ada yang mengatakan bahwa Verona adalah “kota kecil yang cocok dijelajahi pelan dengan kecepatan 0,5x; bayangan dan cahaya saling bertaut, seperti kisah sastra dan sejarah yang menyatu di sini.”

Rumah Juliet tersembunyi di sebuah gang yang tampak biasa saja. Di gerbang masuk rumahnya ada “dinding surat cinta”, penuh dengan surat-surat dari wisatawan di seluruh dunia yang ditujukan untuk Juliet. Di halaman, patung perunggu Juliet berdiri di sana; bagian kanan dadanya berkilau karena disentuh berkali-kali oleh begitu banyak wisatawan—katanya hal itu bisa membawa keberuntungan dalam cinta. Aku berdiri di tengah kerumunan, menatap balkon yang dipenuhi sulur tanaman merambat; di sana pasangan-pasangan saling berpelukan dan berciuman. Menghabiskan puluhan euro untuk naik ke balkon yang terkenal itu mungkin hanya untuk menggenapkan sebuah mimpi tentang cinta.

Menjelang malam, aku berjalan ke dek observasi di seberang Sungai Adige, untuk menatap seluruh Verona. Matahari senja mewarnai kota tua dengan warna amber yang hangat; menara-menara gereja, istana-istana tua, dan sungai yang berkelok-kelok semuanya diselimuti cahaya keemasan. Shakespeare mungkin tidak pernah datang ke Verona, tetapi kisah cinta yang ia tulis membuat kota ini hidup selamanya dalam romansa.

Romansa di Verona bukan sesuatu yang sengaja diciptakan, melainkan menyatu dalam setiap jalan batu, setiap bangunan tua, dan setiap senja.

V. Manarola: palet warna yang tertumpah di atas tebing

Dari Verona ke selatan, aku tiba di Cinque Terre di pantai Liguria. Lima desa di atas tebing, seperti lima permata yang tercecer di antara gunung dan laut. Dan yang paling romantis di antaranya adalah Manarola.

Sejarah Manarola bisa ditelusuri hingga abad ke-13. Penduduk setempat membangun rumah di atas tebing untuk menghindari perompak, lalu menandai rumah mereka dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, biru, dan hijau agar keluarga yang melaut bisa dikenali dari jarak jauh. Maka terciptalah pemandangan yang kita lihat sekarang—rumah-rumah berwarna-warni bertumpuk berlapis di atas tebing, menuruni tebing hingga jatuh ke Laut Tengah yang biru tua.

Aku mendaki di “Jalan Cinta” (Via dell'Amore) yang menghubungkan Manarola dan Riomaggiore. Jalur ini panjangnya sekitar satu kilometer: satu sisi adalah tebing yang curam, sisi lainnya adalah Laut Tengah yang biru pekat. Sepanjang perjalanan, ada kunci pasangan dan patung berciuman yang bisa ditemui di mana-mana; jalur ini dipuji sebagai “jalur paling romantis di dunia”. Ombak menghantam batuan vulkanik hitam; di udara tercium aroma garam laut dan kemangi.

Senja adalah momen terindah Manarola. Matahari senja mewarnai seluruh kota dengan pink dan emas; rumah-rumah berwarna berkilau dalam cahaya senja, seperti kastel dongeng yang dinyalakan. Aku duduk di atas batu tepi pantai, meneguk secangkir anggur lokal dari varietas vermentino—saat melihat permukaan laut memantulkan rumah-rumah berwarna dan langit yang merah menyala. Seolah seluruh dunia tinggal cinta dan ketenangan.

Seperti yang dikatakan penduduk setempat: “Keindahan Manarola ada pada kenyataan bahwa ia selalu memberikan momen tak terduga, dengan kartu pos paling hidup untukmu.”

VI. Positano: lihat sekali, lalu mati

Terus ke selatan, aku tiba di Positano di pesisir Amalfi.

Ada yang bilang, “Lihat Positano sekali, lalu mati.” Pada awalnya aku menganggap kalimat itu terlalu melebih-lebihkan, tapi saat aku berdiri di tempat tinggi dan menghadap kota ini, aku mengerti—lantai rumah-rumah kecil berwarna kuning seperti lemon, merah karang, dan hijau mint dibangun mengikuti kemiringan bukit, menjulur berlapis-lapis dari tebing curam hingga ke tepi laut, seperti palet warna yang ditumpahkan oleh seorang pelukis. Biru Laut Tengah adalah biru Tiffany yang seolah memancarkan cahaya; perahu-perahu layar tersebar di permukaan laut; bahkan angin pun membawa aroma lemon dan garam laut.

Pemenang Hadiah Nobel Sastra, John Steinbeck, pernah berkunjung ke Positano. Dalam catatan perjalanannya ia menulis, “Positano adalah negeri impian; ketika kau ada di sana, ia tidak begitu nyata; setelah kau pergi, ia menjadi hidup sepenuhnya.”

Aku berjalan pelan menuruni anak tangga batu yang berkelok-kelok; di setiap tikungan tersimpan kejutan—balkon yang dipenuhi bougainvillea segitiga, toko-toko kecil yang memajang kerajinan keramik buatan tangan, kios manisan yang menguarinya aroma lemon. Udara dipenuhi rasa lemon dan laut. Di tempat ini, bahkan bernapas pun terasa seperti sebuah kenikmatan.

Saat malam turun, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu; bangunan-bangunan berwarna di sepanjang tebing berkilau seperti permata. Aku duduk di teras restoran di tepi tebing, menghadap laut yang diwarnai merah oleh senja, dan berpikir—mungkin inilah romansa ala Italia: tidak perlu alasan apa pun, cukup kau berada di sini, tenang merasakannya.

VII. Alberobello: tinggal di dalam dongeng rumah jamur

Pemberhentian terakhir, aku tiba di wilayah Puglia di Italia selatan untuk mencari Alberobello.

Ini adalah kota yang seperti disihir. Rumah batu Trulli dengan dinding putih dan atap abu-abu dibangun di lereng bukit, atap kubahnya bertumpuk tidak beraturan seperti jamur yang tumbuh berkelompok. Rumah dengan atap berbentuk kerucut itu awalnya dibangun penduduk setempat untuk menghindari pajak—tanpa adukan, batu-batu disusun begitu saja, sehingga mudah dibongkar; ketika petugas pajak datang, rumah bisa segera diruntuhkan. Kini, bangunan-bangunan ini menjadi keajaiban arsitektur yang tersisa di seluruh dunia; pada tahun 1996, UNESCO memasukkannya ke dalam daftar Warisan Budaya Dunia.

Aku menginap di sebuah penginapan Trulli yang telah direnovasi. Kubah dari batu, balok-balok kayu, dan jendela kecil yang meneruskan cahaya. Pagi hari, sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela kecil di atap kubah, menyentuh wajah dengan lembut; malam hari, aku tidur sambil bersandar pada langit berbintang. Rasanya benar-benar seperti tinggal di dalam dongeng.

Kawasan Monti di kota ini adalah tempat Trulli paling padat; deretan rumah putih di lereng bukit tersusun berlapis seperti balok-balok jamur yang ditata rapi. Aku naik ke dek observasi di alun-alun Rakyat, menatap seluruh kota—di bawah langit biru, sekumpulan atap berbentuk kerucut warna putih berkilau di bawah sinar matahari. Pemandangan itu bersih, lembut, tanpa hiruk-pikuk yang padat; yang ada hanya waktu yang melambat dan pemandangan yang menyembuhkan.

Menjelang senja, aku naik lagi ke dek observasi. Matahari senja mewarnai rumah-rumah batu putih menjadi emas yang hangat; bayangan kincir angin dan rumah-rumah itu saling berpadu dalam suasana senja. Pada saat itu, semua kelelahan terasa terobati.

VIII. Penutup: romansa Italia tersimpan dalam waktu yang melambat

Setelah menjalani perjalanan ini, aku tiba-tiba memahami kalimat yang sering diucapkan orang Italia—“dolce far niente”, manisnya menjadi malas tanpa melakukan apa pun.

Kota-kota kecil romantis di Italia tidak ada yang menang hanya karena “tempat wisata”. Daya tariknya terletak pada momen-momen yang tak sengaja: senja yang tenang di tepi Danau Orta, aroma bunga ungu di gang-gang Sirmione, sebuah legenda tentang cinta di balkon Verona, secangkir anggur saat matahari terbenam di tepi tebing Manarola, sebuah tikungan yang dipenuhi bougainvillea di anak tangga Positano, seberkas sinar pagi di rumah-rumah jamur Alberobello.

Kota-kota kecil ini mengingatkan kita bahwa romansa Italia jauh lebih dari sekadar jalur air di Venesia. Ia tersebar di setiap jalan batu yang dipoles oleh waktu, mekar di setiap ambang jendela yang dipenuhi bunga, dan mengendap di setiap cangkir anggur yang diminum pelan-pelan.

Kalau kau bertanya padaku, kota kecil paling romantis di Italia yang mana? Aku tidak bisa menjawab. Karena setiap kota unik, dan setiap kota layak kau rasakan dengan hati yang melambat.

Seperti romansa Italia itu sendiri—ia bukan sesuatu yang diciptakan, melainkan ditemukan.
OWL-12,38%
Lihat Asli
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan