#USEndsLatestStrikesOnIran AS Mengakhiri Serangan Udara Terbaru atas Iran setelah Ketujuh Malam Berturut-turut Serangan


Militer Amerika Serikat telah mengakhiri gelombang terbaru serangan udara terhadap Iran, menandai malam ketujuh berturut-turut operasi ofensif yang menarget Republik Islam. Serangan itu berakhir pada 17 Juli pukul 9:30 malam waktu ET, dan menjadi kampanye militer terpanjang dan paling berkelanjutan antara kedua negara sejak konflik dimulai pada Februari.

Latar Belakang dan Runtuhnya Gencatan Senjata

Eskalasiyang terjadi saat ini menyusul runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi pada Juni melalui negosiasi yang melibatkan Pakistan. Memorandum pemahaman sementara tersebut menetapkan kerangka untuk mengakhiri permusuhan, di mana AS setuju menghapus blokade laut atas pelabuhan-pelabuhan Iran sementara Teheran berkomitmen untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menegaskan kembali bahwa "selain itu tidak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir". Namun kesepakatan itu mulai berantakan ketika Iran menyerang pelayaran komersial di selat tersebut, menuntut agar kapal meminta otorisasi untuk melintas melalui jalur air strategis.

Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata "berakhir" pekan lalu, menggambarkan memorandum tersebut sebagai "sebuah uji" niat Teheran. "Ini dibangun untuk diuji. Ini adalah sebuah tes. Kami tidak tahu apakah itu akan menghasilkan apa pun. Tidak," kata Trump kepada pembawa acara radio Hugh Hewitt. Setelah itu, pemerintahan AS memulihkan blokade laut atas pelabuhan Iran dan melanjutkan operasi militer.

Rincian Serangan Malam Ketujuh

CENTCOM mengonfirmasi bahwa pasukan AS menggunakan beragam aset militer dalam operasi terbaru, termasuk pesawat tempur, drone udara, dan kapal perang. Serangan menargetkan beberapa kategori infrastruktur militer Iran:

· Situs pengawasan yang digunakan untuk memantau aktivitas regional
· Infrastruktur logistik militer yang mendukung operasi Iran
· Fasilitas penyimpanan senjata bawah tanah
· Kapabilitas maritim yang mengancam pelayaran komersial di wilayah tersebut

Ledakan dilaporkan terjadi di kota tengah Yazd, di Pulau Qeshm, dan di pelabuhan Bandar Abbas dekat Selat Hormuz. AS juga mengklaim telah menghancurkan sebuah menara kendali di pelabuhan Chabahar.

Sikap Militer AS dan Tujuan Strategis

CENTCOM menekankan bahwa operasi akan berlanjut "atas arahan Panglima Tertinggi" sambil menerapkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Komando tersebut menyatakan lebih dari 50.000 anggota layanan militer AS beroperasi di seluruh Timur Tengah dan "tetap waspada, mematikan, dan siap". Kampanye militer difokuskan untuk melemahkan kemampuan Iran yang digunakan untuk mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, pusat penghubung penting yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Respons Iran dan Dampak Regional

Iran merespons serangan AS dengan menarget sekutu AS dan fasilitas militer di seluruh kawasan. Pasukan Iran mengklaim telah menyerang beberapa instalasi militer AS di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan untuk pertama kalinya, Suriah. Kuwait melaporkan bahwa salah satu pabrik distilasi tenaga dan airnya kembali menjadi sasaran, menyusul serangan serupa pada hari sebelumnya, dengan beberapa unit pembangkit listrik dinonaktifkan. Militer Yordania mencegat 10 rudal Iran yang ditembakkan ke ruang udaranya semalam, meski tidak ada kerusakan yang dilaporkan. Bahrain juga menyatakan sistem pertahanan udaranya telah "menggagalkan" serangan Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Republik Islam telah menangguhkan semua komitmen berdasarkan Memorandum Islamabad, dengan Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan itu. "AS telah melanggar dan menangguhkan semua komitmennya dalam kerangka Islamabad MoU," Gharibabadi dikutip.

Korban dan Kekhawatiran Kemanusiaan

Dampak manusia dari konflik yang terus berlangsung terus meningkat. Pejabat Iran melaporkan bahwa serangan udara AS terbaru telah menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan di seluruh negeri. Menurut otoritas Iran, sedikitnya 46 orang tewas dan lebih dari 400 luka-luka akibat serangan udara AS terbaru, termasuk delapan orang tewas dalam serangan terhadap sebuah jembatan pada Jumat. Otoritas provinsi di Provinsi Hormozgan mengonfirmasi bahwa tujuh orang tewas dalam serangan yang berdampak pada wilayah tersebut. Namun AS membantah menarget infrastruktur sipil, dengan juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa AS "melakukan serangan secara eksklusif terhadap target militer, termasuk infrastruktur logistik militer".

BBC Verify dan BBC Persian telah memverifikasi rekaman kerusakan di Jembatan Gariveh, dengan gambar siang hari yang menunjukkan hamparan jalan yang ambruk dan reruntuhan di sekitar struktur yang rusak. Militer AS juga menolak klaim Iran bahwa dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar saat melintas melalui jalur yang dipasangi ranjau di sebelah selatan Selat Hormuz.

Reaksi Internasional dan Upaya Diplomatik

Konflik yang meningkat telah menarik perhatian internasional, dengan China dan Pakistan menyerukan kepada Amerika Serikat dan Iran untuk "segera menghentikan permusuhan" serta melanjutkan dialog secara bersama. Pernyataan dari Beijing muncul saat kedua pihak terus saling bertukar serangan militer balasan di tengah ketegangan atas Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyerukan dorongan diplomatik baru setelah serangan AS, memperingatkan bahwa konflik ini mendestabilisasi seluruh kawasan dan membuat lalu lintas maritim komersial melalui pusat penghubung Selat Hormuz terhenti.

Implikasi Strategis

Selat Hormuz tetap menjadi titik nyala utama dalam ketegangan AS-Iran. Iran secara efektif telah menyatakan selat itu tertutup untuk pengiriman, dan arus lalu lintas sebagian besar telah berhenti. Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, menyatakan kekhawatiran mengenai pasokan energi global mengingat pentingnya jalur air tersebut.

Konflik saat ini dimulai dengan serangan udara AS-Israel pada 28 Februari, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang. Konflik yang berlangsung berbulan-bulan sejak itu telah menewaskan ribuan orang dan menghantam pasokan energi di seluruh dunia. Meski perjanjian gencatan senjata pada Juni telah ditandatangani, ketegangan mendasar soal kendali atas selat tersebut, ambisi nuklir Iran, dan pengaruh regional terbukti sulit diatasi.

Kesimpulan

Kesimpulan militer AS atas malam ketujuh berturut-turut serangan terhadap Iran menandai eskalasi signifikan lain dalam konflik yang terus berlangsung. Meskipun CENTCOM menekankan bahwa operasinya berfokus untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang mengancam pelayaran komersial, biaya kemanusiaannya terus meningkat dan ketidakstabilan regional semakin dalam. Runtuhnya gencatan senjata Juni dan kegagalan upaya diplomatik memunculkan pertanyaan tentang peluang de-eskalasi. Dengan lebih dari 50.000 personel militer AS dikerahkan di seluruh Timur Tengah dan Iran bersumpah melanjutkan responsnya, kawasan tetap dalam ketegangan saat kedua pihak tampak siap menghadapi konfrontasi berikutnya.

#USEscalation #IranStrikes #CENTCOM #StraitOfHormuz
NG1,65%
Lihat Asli
post-image
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • 1
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
HighAmbition
· 5jam yang lalu
Menuju Bulan 🌕
Lihat AsliBalas0
  • Disematkan