Baru saja saya lihat-lihat pasar NFT, harga lantainya turun cukup parah, tapi perdebatan soal royalti justru semakin ramai. Ada beberapa proyek yang bersikeras mempertahankan royalti; akibatnya likuiditas langsung ambruk—pembeli menganggapnya mahal, sementara penjual tidak bisa melepas. Sebaliknya, proyek yang sepenuhnya meninggalkan royalti dan mengandalkan cara menggulung harga untuk mengejar volume, komunitasnya merasa tidak menghargai kreator, dan rasanya pun jadi tidak pas.



Saya sendiri agak penasaran, royalti ini pada akhirnya melindungi kreator, atau justru secara tidak langsung menaikkan hambatan masuk? Seperti protokol Flair, yang mengandalkan royalti untuk dieksekusi secara paksa lewat teknologi—tetapi apakah pasar menerimanya, tetap bergantung pada kemampuan proyek untuk “menghidupi” dirinya sendiri. Narasi komunitas sekarang juga terlihat terpecah: di satu sisi teriak “menghargai kreator”, di sisi lain membeli barang paling murah—dan itu juga terasa cukup nyata.

Pokoknya, dari pengamatan saya, NFT yang bisa bertahan biasanya salah satu dari dua hal: entah simbol budaya murni dengan konsensus komunitas yang begitu kuat sampai tidak peduli harga lantai; atau terikat dengan hak guna praktis, seperti kartu keanggotaan dan airdrop token tata kelola. Hanya mengandalkan royalti untuk bercerita, saat pasar lagi dingin, bahkan untuk “sekadar minum” saja rasanya tidak dapat… Menurut saya, setelah gelombang hype surut, justru bisa terlihat mana yang benar-benar punya daya rekat, bukan?
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan