Lebih dari 60% warga AS memandang prospek ekonomi memburuk! Survei CNBC: warga memangkas pengeluaran secara besar-besaran, mayoritas menyalahkan inflasi kepada Trump

Kecemasan warga AS terhadap kondisi ekonomi terus memanas dengan cepat! Menurut laporan International Business Times, jajak pendapat terbaru CNBC menunjukkan sebanyak 61% warga Amerika merasa pesimistis terhadap prospek ekonomi saat ini dan masa depan, sekaligus menjadi rekor tertinggi dalam hampir 2,5 tahun. Yang lebih menarik perhatian publik, lebih dari 60% responden sangat tidak puas dengan cara Presiden Trump (Donald Trump) menangani ekonomi, menandakan inflasi yang terus tinggi dan tekanan biaya hidup telah secara serius mengguncang kepercayaan pemilih terhadap otoritas yang berkuasa. (Berita sebelumnya: para eksekutif perusahaan AS mencuri jalan? Penjualan saham tahun ini mencapai 77,6 miliar dolar AS, tertinggi kedua dalam 20 tahun, sebelumnya saat pandemi) (Tambahan konteks: Senat AS meloloskan: SBF tidak akan pernah mendapatkan grasi! Anggota parlemen berujar “biarkan dia terus menjalani hukuman penjara” dikhawatirkan bisa sampai 2044)

Daftar isi

Toggle

  • Kepuasan ekonomi Trump mencapai titik terendah baru dalam karier politik
  • Harga melambung memicu “kejutan stiker”, warga memangkas besar-besaran pengeluaran hidup
  • Pemotongan bantuan SNAP menjadi pemicu tekanan

Seiring langkah pemilu sela AS semakin dekat, sentimen pesimistis pemilih terhadap ekonomi secara keseluruhan mulai merata di seluruh negeri. Pada 17 Juli 2026 waktu Taipei, menurut International Business Times, jajak pendapat nasional terbaru yang dilakukan CNBC mengungkap sinyal ekonomi yang mengkhawatirkan: sebanyak 61% responden merasa pesimis terhadap kondisi ekonomi saat ini dan prospek masa depan, mencatat rekor tertinggi sejak Desember 2023.

Sebaliknya, hanya 25% warga AS (seperempat) yang bersikap optimistis terhadap prospek ekonomi. Analis lembaga jajak pendapat Partai Republik yang ikut melakukan survei tersebut, Public Opinion Strategies, Micah Roberts, menegaskan, “Emosi pemilih jelas sedang terpuruk.”

Kepuasan ekonomi Trump mencapai titik terendah baru dalam karier politik

Di tengah kepercayaan publik yang runtuh terhadap ekonomi, Presiden AS Trump menjadi sasaran utama. Data menunjukkan sebanyak 60% responden “tidak setuju” dengan cara Trump menangani masalah ekonomi, sementara hanya 38% yang menyatakan setuju. Laporan menekankan ini adalah penilaian terburuk yang pernah diterima Trump di karier politiknya dalam isu ekonomi; mayoritas pemilih AS telah secara jelas menyalahkan pemerintahan Trump atas memburuknya kondisi ekonomi.

Harga melambung memicu “kejutan stiker”, warga memangkas besar-besaran pengeluaran hidup

Ketidakpuasan politik yang kuat ini berakar pada tekanan keuangan yang sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena harga terus merangkak naik, perilaku konsumen AS mengalami perubahan yang signifikan. Jajak pendapat menunjukkan sebanyak 47% orang telah mulai mengurangi pembelian “barang kebutuhan” seperti makanan dan layanan medis; angka ini meningkat tajam 6 poin persentase dibanding April tahun ini. Sementara itu, proporsi pengurangan konsumsi “barang non-kebutuhan” seperti makan di luar bahkan mencapai dua pertiga (sekitar 66%), juga naik 5 poin persentase.

Laporan lain dari konsultan Bain & Company yang menggabungkan data NielsenIQ turut membenarkan fenomena tersebut: pada Juni tahun ini, total volume pembelian bahan makanan (grocery) AS turun 1,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Laporan tersebut menggambarkan secara gamblang: pada 2019, sekali belanja besar mungkin hanya membutuhkan biaya 300 dolar AS, tetapi kini barang yang sama menjadi 400 dolar AS. Kenaikan harga yang drastis ini tidak hanya menghantam kelas pekerja bergaji, bahkan konsumen berpendapatan tinggi pun merasakan “kejutan stiker (sticker shock)” yang serius, sehingga mendorong mereka mulai mencari opsi pengganti yang lebih murah di pasar.

Pemotongan bantuan SNAP menjadi pemicu tekanan

Selain harga bahan makanan yang tinggi dan biaya bahan bakar yang terus meningkat, kebijakan terbaru pemerintahan Trump juga semakin memperberat tekanan hidup bagi kalangan lapisan bawah. Laporan menyebutkan, pemotongan tunjangan program bantuan gizi tambahan yang dikenal sebagai “kartu makanan” (SNAP) oleh pemerintahan Trump telah menjadi salah satu sumber tekanan utama yang dihadapi banyak keluarga. Ketika masyarakat memperkirakan ekonomi akan memburuk lebih jauh (41% memperkirakan memburuk, hanya 29% memperkirakan membaik), sentimen negatif yang kuat ini berpotensi menimbulkan variabel besar bagi persaingan politik yang akan datang.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan