XRP Dark Pools Terungkap: Seorang Ahli Mengatakan Mereka Menunda Kejelasan UU untuk Terus Mengakumulasi

@media hanya untuk layar dan (min-width: 0px) dan (min-height: 0px) { div[id^="wrapper-sevio-6a57f7be-8f6e-4deb-ae2c-5477f86653a5"]{width:320px;height:100px;} } @media hanya untuk layar dan (min-width: 728px) dan (min-height: 0px) { div[id^="wrapper-sevio-6a57f7be-8f6e-4deb-ae2c-5477f86653a5"]{width:728px;height:90px;} }

Kinerja harga XRP terus menjadi sumber frustrasi bagi banyak investor meski ada perkembangan institusional yang berlanjut dan minat yang meningkat terhadap aset tersebut.

Sementara token tersebut telah diperdagangkan jauh di bawah level tertingginya sebelumnya selama berbulan-bulan, sebagian pengamat pasar meyakini bahwa pergerakan harga tidak mencerminkan permintaan yang mendasarinya. Komentator kripto BullRunners telah menguraikan perspektif rinci yang menunjukkan bahwa akumulasi tersembunyi dan penundaan regulasi yang sedang berlangsung dapat berkontribusi pada periode lemahnya harga XRP yang berkepanjangan.

Dalam video terbaru yang dibagikan di X, BullRunners mengklaim bahwa pembeli institusional besar diam-diam sedang mengakumulasi XRP sementara harga di pasar publik tetap lesu. Ia menjelaskan bahwa kombinasi penurunan saldo bursa, permintaan ETF, akumulasi whale, serta kejelasan regulasi yang tertunda mengarah pada pasar yang mungkin berperilaku berbeda dari yang terlihat di permukaan.

BullRunners Menyoroti Penurunan Pasokan di Bursa

BullRunners memulai dengan mencatat bahwa XRP telah jatuh secara signifikan dari puncak sebelumnya dan menghabiskan beberapa bulan untuk diperdagangkan dalam kisaran sempit. Meski demikian, ia mengklaim jumlah XRP yang tersedia di bursa telah turun tajam, dari hampir empat miliar token setahun lalu menjadi sekitar 1,6 miliar hari ini, yang ia sebut sebagai level terendah dalam tujuh tahun.

Menurut BullRunners, penurunan ini terjadi bersamaan dengan peluncuran beberapa ETF XRP yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded funds) di Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa ETF-ETF tersebut secara kolektif memegang lebih dari 900 juta XRP, sementara pemegang besar, yang umumnya disebut whale, telah mengakumulasi sekitar 1,5 miliar token tambahan selama enam bulan terakhir.

Ia menyarankan bahwa perkembangan ini memunculkan pertanyaan penting tentang ke mana pasokan XRP yang tersedia akan mengalir jika pasar terus bergerak lebih rendah.

Teori Dark Pool dan Penundaan Regulasi

BullRunners berpendapat bahwa investor institusional tidak membeli dalam jumlah besar XRP melalui bursa publik karena tindakan tersebut dapat mendorong harga naik saat eksekusi. Sebagai gantinya, ia mengklaim mereka bergantung pada tempat perdagangan privat yang dikenal sebagai dark pools, di mana transaksi besar dapat terjadi di luar buku pesanan publik.

Sebagai bagian dari argumennya, ia menyinggung FalconX dan akuisisinya atas 21Shares sebelum peluncuran ETF XRP spot. BullRunners menyarankan bahwa para analis meyakini akses FalconX ke likuiditas privat XRP bisa menurun seiring meningkatnya permintaan ETF. Namun, ia mengakui bahwa hal ini masih merupakan interpretasi, bukan fakta yang terbukti, seraya mencatat bahwa likuiditas dark pool tidak diungkapkan ke publik.

Ia juga membahas penjelasan alternatif untuk kinerja XRP. BullRunners mencatat bahwa XRP terus bergerak berdekatan dengan Bitcoin dan merujuk pada komentar dari pengacara pro-XRP Bill Morgan, yang berpendapat bahwa data pertukaran yang lebih luas masih menunjukkan sekitar 15 miliar XRP tersedia untuk diperdagangkan. BullRunners setuju bahwa faktor-faktor ini tidak boleh diabaikan dan memperingatkan agar jangan ada klaim bahwa guncangan pasokan yang segera pasti terjadi.

Clarity Act Dipandang sebagai Titik Balik yang Potensial

Fokus besar lain dalam presentasi tersebut adalah Rancangan Undang-Undang Clarity Act yang diusulkan. BullRunners berpendapat bahwa legislasi yang secara formal mendefinisikan status legal XRP dapat membuka jalan bagi investor institusional yang saat ini masih menunggu di luar pasar.

Ia mengklaim bahwa dana pensiun dan sovereign wealth funds umumnya memerlukan kepastian hukum sebelum berinvestasi pada aset digital dan menyarankan bahwa pengesahan legislasi tersebut dapat secara signifikan meningkatkan permintaan institusional. BullRunners juga membahas penolakan dari segmen industri perbankan, dengan mengutip komentar yang dibuat CEO JPMorgan Jamie Dimon terkait legislasi stablecoin.

Meskipun ia tidak sampai menuduh adanya manipulasi pasar yang terkoordinasi, BullRunners mengatakan bahwa waktu penurunan saldo bursa, akumulasi institusional, dan penundaan seputar Clarity Act menimbulkan pertanyaan yang layak diteliti lebih dekat. Ia menutup dengan mendorong penonton untuk memantau pasokan di bursa, aktivitas institusional, serta perkembangan legislatif, sembari menekankan bahwa investor harus menilai bukti yang tersedia dan menarik kesimpulan mereka sendiri.

Disclaimer*: Konten ini dimaksudkan untuk memberikan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat keuangan. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini mungkin mencakup opini pribadi penulis dan tidak merepresentasikan opini Times Tabloid. Pembaca disarankan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. Setiap tindakan yang diambil oleh pembaca sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka sendiri. Times Tabloid tidak bertanggung jawab atas kerugian keuangan apa pun.*


Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan