Hidup seperti biji sawi, namun juga memiliki kegagahan.

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung
Hidup bagaikan sebutir debu, namun tetap menuju lautan dan gunung

Orang sering menghela napas, hidup ini seperti singgah, sekecil debu. Kita semua hanyalah sebutir debu di antara langit dan bumi, lahir di dunia fana, berjalan di tengah badai, biasa hingga tenggelam dalam lautan manusia, biasa hingga tak mendapat kasih sayang zaman. Tanpa aura yang dibawa sejak lahir, tanpa kemulusan yang instan, jalan di depan penuh liku, kehidupan penuh pasang surut, itulah norma kehidupan kebanyakan orang.

Namun kecil bukanlah takdir untuk biasa-biasa saja; biasa bukanlah alasan untuk menyerah.

Sebutir debu yang paling kecil, terbawa angin naik turun, namun tak pernah takut pada luasnya gunung dan sungai, pada guncangan badai. Di musim semi ia menembus tanah, tak berebut keindahan bunga, diam-diam berakar di tanah; di musim gugur dan dingin ia bersembunyi, tak takut pada embun beku yang menggigit, diam-diam mengumpulkan kekuatan. Ia lahir di tanah seluas jari, tumbuh di tengah debu dunia, tak ada yang memperhatikan, tak ada yang bersorak, namun selalu tumbuh menuju matahari, tumbuh dengan keras kepala. Tubuh yang sekecil butiran debu menyimpan vitalitas paling tangguh; jiwa yang biasa menyimpan tekad awal yang paling membara.

Manusia pun demikian.

Mungkin kita lahir biasa, tanpa titik awal yang istimewa;
Mungkin sering mengalami kegagalan, berputar-putar di lembah;
Mungkin setengah hidup berjuang, tetap saja tak dikenal.
Kita akan mengalami kekecewaan dan kesepian, menghadapi liku-liku kehidupan, bingung dalam kebingungan, berjuang dalam kesulitan, melihat dingin dan hangatnya hubungan manusia, mengalami untung rugi dan pasang surut, seperti sebutir debu yang terbawa angin, naik turun dalam arus kehidupan.

Namun kekuatan sejati bukanlah lahir dengan gemilang, melainkan meskipun kecil, tetap tak mau tenggelam;
Meskipun mengalami badai, tetap tak pernah menyerah.

Hidup bagaikan sebutir debu, sangat tahu bahwa cahaya kecil pun bisa membakar padang, akumulasi tebal akhirnya bisa meledak. Semua endapan yang tak dihiraukan orang, semua ketekunan yang dilakukan diam-diam, semua lembah yang ditahan dengan gigi, bukanlah sia-sia. Waktu-waktu sendirian itu, ketekunan yang tertahan, pengalaman yang mengendap, semuanya akan diam-diam mengasah tulang punggung kita, memperkaya dasar kekuatan kita.

Tak perlu iri pada gemerlapnya orang lain, tak perlu cemas pada langkah kita yang lambat. Ada yang sukses di usia muda, ada yang sukses di usia tua; ada yang jalannya mulus, ada yang berenang melawan arus. Hidup tak pernah punya jawaban baku, kebangkitan tak pernah mengenal cepat atau lambat, pertumbuhan tak pernah berhubungan dengan cepat atau lambat.

Sebagai sebutir debu, tak perlu malu pada kecilnya, tak perlu takut pada panjangnya jalan di depan. Terima kebiasaan diri, namun jangan pernah memanjakan diri untuk menjadi biasa-biasa saja; hadapi lembah saat ini, namun jangan pernah menyerah pada cinta di hati. Dalam-dalamlah mengakar, mantapkan langkah untuk maju, endapkan hati dalam pasang surut, asah ketajaman dalam badai.

Cahaya kecil berkumpul, bisa menembus kegelapan sedalam ribuan zhang; ketekunan cahaya kecil, bisa menempuh lautan dan gunung sejauh ribuan li.

Hidup bagaikan sebutir debu, meskipun tubuh hanyalah debu, hati memiliki gunung dan lembah;
Semoga kita bertahan dalam kebiasaan, mengumpulkan kekuatan dalam kesunyian, tumbuh dalam pasang surut. Tak tergesa-gesa, diam-diam mengakar, menunggu angin bertiup, suatu hari nanti, kita yang sekecil debu ini pun bisa melepaskan diri dari kebiasaan, memancarkan gemerlap kejayaan kita sendiri!
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar