Belakangan ini kembali teringat kisah Bill Hwang, orang ini pada tahun 2021 kehilangan 20 miliar dolar dalam waktu hanya dua hari, menjadi orang yang paling cepat merugi di Wall Street. Secara kasat mata terlihat dia mengalami margin call, tetapi logika di baliknya sebenarnya adalah contoh ekstrem dari apa yang terjadi saat likuidasi margin. Banyak orang pernah mendengar kata "margin call" dan "liquidasi", tetapi tidak banyak yang benar-benar memahami risiko di baliknya.



Mari mulai dari yang paling dasar. Membeli saham dengan kredit berarti meminjam uang dari broker, sendiri menyediakan sebagian, broker menyediakan sebagian lagi, lalu membeli saham bersama. Kedengarannya bagus, kan? Kamu hanya perlu 40% modal untuk mengendalikan 100% saham, dan saat saham naik, keuntungan berlipat ganda. Tapi masalahnya, saat saham turun, kerugian juga akan berlipat ganda.

Contoh nyata. Misalnya saham Apple seharga 150 dolar, kamu punya 50 dolar, dan broker meminjamkan 100 dolar, sehingga kamu membeli satu saham. Saat saham naik ke 160 dolar, kamu jual dan bayar kembali pinjaman, mendapatkan keuntungan 19%, terlihat sangat menguntungkan. Tapi jika saham turun ke 78 dolar? Broker akan datang dan bilang, "Bro, kamu harus menambah margin." Di pasar saham Taiwan, biasanya investor menyediakan 40%, dan broker 60%, dengan rasio margin awal 167%. Ketika rasio pemeliharaan turun di bawah 130%, yaitu saat harga saham turun ke 78 dolar, broker akan meminta margin call. Jika kamu tidak bisa menambah dana, broker akan langsung menjual sahammu, inilah akibat dari likuidasi margin—penutupan posisi secara paksa.

Seberapa besar pengaruh margin call terhadap pasar? Dampak utamanya adalah harga saham akan tertekan ke level oversold. Umumnya, investor ritel akan ragu menjual saat rugi, tetapi broker tidak peduli, mereka hanya ingin mendapatkan kembali uang yang dipinjamkan, jadi mereka akan menjual di harga pasar, bahkan lebih rendah. Ketika banyak saham yang dijamin dengan kredit dipaksa dijual, aksi jual ini akan memicu reaksi berantai, memicu gelombang margin call lainnya, dan harga saham pun terus menurun.

Dampak kedua lebih tersembunyi. Setelah margin call, saham yang dijual oleh broker akan mengalir ke tangan investor ritel, yang cenderung bersifat spekulatif dan mudah terpengaruh fluktuasi harga. Dana besar yang melihat situasi ini akan enggan masuk, dan saham akan terjebak dalam tren penurunan jangka panjang, kecuali ada berita positif besar yang mampu menarik kembali modal.

Kembali ke Bill Hwang. Orang ini adalah manajer dana lindung nilai, strateginya adalah menggunakan leverage besar-besaran untuk memperbesar keuntungan. Dalam waktu 10 tahun, asetnya dari 220 juta dolar melonjak menjadi 20 miliar dolar, menjadi tokoh terkenal di Wall Street. Tapi leverage tinggi paling takut terhadap "black swan". Pada volatilitas pasar tahun 2021, posisi portofolionya mulai bergejolak, dan broker melakukan margin call secara paksa. Masalahnya, jumlah saham yang dia pegang sangat besar, pasar tidak punya cukup pembeli untuk menyerap penjualan tersebut, dan begitu mulai menjual, akan memicu margin call dari investor lain, menciptakan efek kejar-kejaran. Bukan hanya saham yang rugi dan dilikuidasi, bahkan saham stabil pun terpaksa dijual untuk memenuhi margin. Akhirnya, semua saham yang dia pegang dalam waktu singkat mengalami penurunan besar.

Lalu, bagaimana cara menghindari margin call? Sebenarnya, leverage sendiri bukan hal buruk, yang penting adalah bagaimana menggunakannya. Jika kamu yakin terhadap suatu saham tetapi modal terbatas, bisa menggunakan leverage secara bertahap untuk menurunkan biaya rata-rata. Tapi harus memilih saham dengan likuiditas cukup besar dan kapitalisasi pasar yang cukup, agar saat terjadi margin call dari investor besar, harga tidak akan bergejolak ekstrem. Selain itu, perhatikan biaya bunga pinjaman, ada saham yang dividen tahunan tidak cukup untuk membayar bunga, jadi tidak perlu menggunakan leverage di situ. Juga, hormati analisis teknikal, saat saham berada di zona tekanan dan tidak mampu menembus, sebaiknya ambil profit dan jangan biarkan bunga menggerogoti keuntungan. Begitu pula, jika harga menembus support, harus cepat cut loss dan jangan berharap rebound.

Leverage seperti pedang bermata dua, jika digunakan dengan benar bisa mempercepat akumulasi kekayaan, tapi jika salah digunakan bisa mempercepat kerugian. Membeli saham dengan kredit berisiko tinggi, dan risiko margin call jauh lebih nyata. Sebelum berinvestasi, harus melakukan riset yang matang agar bisa mengendalikan risiko dengan baik.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan