Belakangan ini menemukan banyak investor yang membahas waktu beli dan jual saham yang membayar dividen, terutama strategi membeli besar sebelum tanggal ex-dividen dan menjual besar setelahnya. Sejujurnya, ide ini terlihat sederhana, tetapi logika di baliknya sebenarnya jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.



Pertama, mari kita lihat fenomena menarik. Jika sebuah perusahaan mampu secara konsisten membagikan dividen secara stabil, biasanya itu menandakan arus kas yang sehat dan model bisnis yang solid. Itulah sebabnya Warren Buffett sangat menyukai saham dengan dividen tinggi, di mana lebih dari 50% aset alokasinya terdiri dari saham semacam ini. Tapi bagi pemula, sering kali mereka terganggu oleh satu pertanyaan: Apakah harga saham pasti akan turun pada hari ex-dividen? Waktu masuk pasar sebaiknya dilakukan sebelum atau setelah ex-dividen?

Kita mulai dari teori apa yang seharusnya terjadi. Misalnya, sebuah perusahaan dengan laba per saham 3 dolar, dan pasar memberi valuasi 10 kali laba, maka harga per saham adalah 30 dolar. Perusahaan telah mengumpulkan kas selama bertahun-tahun, dan diasumsikan memiliki cadangan kas sebesar 5 dolar per saham, sehingga total valuasi menjadi 35 dolar. Jika perusahaan memutuskan membagikan dividen khusus sebesar 4 dolar per saham, secara teori harga saham pada hari ex-dividen harus turun dari 35 dolar menjadi 31 dolar. Logika ini sangat sederhana—aset perusahaan berkurang, maka harga saham harus menyesuaikan ke bawah.

Namun, ada poin penting di sini: teori hanyalah teori, kenyataan pasar sering berbeda. Melihat tren historis, harga saham pada hari ex-dividen bisa naik maupun turun, tidak selalu turun. Contohnya, Coca-Cola pada tahun 2023 justru mengalami kenaikan kecil pada hari ex-dividen. Bahkan Apple lebih ekstrem, pada 10 November 2023, harga saham dari 182 dolar naik menjadi 186 dolar pada hari ex-dividen. Saham-saham unggulan ini bisa melakukan hal tersebut karena faktor sentimen pasar, kinerja perusahaan, dan faktor lain yang berperan bersama, bukan semata-mata efek ex-dividen.

Lalu, apakah strategi membeli besar sebelum ex-dividen dan menjual besar setelahnya ini efektif? Tergantung situasinya. Pertama, lihat dulu performa harga saham sebelum ex-dividen—jika sudah naik ke level tinggi, banyak investor mungkin sudah mengambil keuntungan sebelumnya, sehingga masuk saat itu berisiko menghadapi tekanan jual dan risiko kerugian. Kedua, perhatikan tren setelah ex-dividen. Secara historis, harga saham cenderung turun setelah ex-dividen, yang tidak terlalu menguntungkan untuk trader jangka pendek karena risiko kerugian saat membeli.

Namun, jika harga saham terus menurun setelah ex-dividen sampai menyentuh level support teknikal dan mulai stabil, ini bisa menjadi peluang beli yang menarik. Untuk perusahaan yang fundamentalnya kuat dan berada di industri terdepan, ex-dividen sebenarnya adalah bagian dari penyesuaian harga, dan nilai intrinsiknya tidak berkurang. Dalam kondisi ini, strategi membeli besar sebelum ex-dividen dan menjual besar setelahnya bisa saja membuat investor melewatkan potensi keuntungan jangka panjang.

Ada satu biaya yang sering diabaikan: pajak. Jika menggunakan akun pajak biasa, membeli saham seharga 35 dolar sebelum ex-dividen dan harga turun ke 31 dolar saat ex-dividen, Anda mengalami kerugian unrealized capital loss sekaligus harus membayar pajak atas dividen sebesar 4 dolar. Ditambah biaya transaksi dan pajak transaksi (biaya transaksi di pasar Taiwan sekitar 0,1425% dikalikan diskon, dan saat menjual harus bayar 0,3% pajak transaksi), biaya-biaya tersembunyi ini bisa menggerogoti sebagian besar keuntungan.

Pendapat saya, strategi membeli besar sebelum ex-dividen dan menjual besar setelahnya ini cocok untuk trader yang sensitif terhadap volatilitas pasar dan memiliki toleransi risiko tinggi. Tapi jika Anda seorang investor jangka panjang yang mengutamakan arus kas stabil, lebih baik fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat dan memegangnya dalam jangka panjang, menjadikan ex-dividen sebagai bagian dari proses pertumbuhan melalui bunga majemuk. Intinya, keputusan harus disesuaikan dengan tujuan investasi dan toleransi risiko Anda, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar