Belakangan ini banyak orang masih bingung apa itu likuidasi margin, saya teringat kisah yang mengguncang Wall Street pada tahun 2021.



Ada seorang manajer dana swasta bernama Bill Hwang, dia menggunakan metode yang tampaknya tak terkalahkan: memilih perusahaan yang dia yakini baik, lalu menggunakan leverage besar untuk memperbesar keuntungan. Strategi ini memang efektif, dalam waktu 10 tahun kekayaannya dari 2,2 miliar dolar AS melonjak menjadi 20 miliar dolar AS, dia menjadi legenda di Wall Street. Tapi pada Maret 2021, pasar mengalami kejadian black swan, dia kehilangan 20 miliar dolar AS dalam waktu hanya 2 hari. Ini bukan sekadar kerugian biasa, melainkan reaksi berantai yang disebabkan oleh likuidasi margin.

Lalu apa sebenarnya likuidasi margin itu? Singkatnya, adalah saat kamu membeli saham dengan uang pinjaman, lalu harga saham turun ke tingkat tertentu, broker takut tidak bisa mengembalikan uang yang dipinjamkan, mereka memaksa menjual sahammu. Proses ini disebut margin call, dari sudut pandang investor adalah likuidasi margin.

Contoh nyata. Misalnya kamu yakin dengan saham Apple, saat ini harganya 150 dolar per lembar, tapi kamu hanya punya 50 dolar. Tidak masalah, broker bisa meminjamkan kamu 100 dolar, sehingga kamu bisa membeli satu lembar saham. Jika harga saham naik ke 160 dolar, kamu jual, bayar kembali pinjaman, dan mendapatkan keuntungan 19%. Tapi jika turun ke 78 dolar, apa yang terjadi? Broker akan meminta kamu menambah margin, yaitu menaruh uang tambahan. Di pasar saham Taiwan, biasanya kamu menyetor 40% dari nilai saham, dan broker yang menanggung 60%. Ketika harga saham turun sehingga rasio margin turun di bawah 130%, broker akan memaksa menutup posisi, inilah likuidasi margin.

Pengaruh likuidasi margin terhadap harga saham sangat besar. Saat saham jatuh dan memicu gelombang likuidasi, broker hanya ingin cepat kembali modal, mereka tidak peduli berapa harga jualnya, langsung menjual berdasarkan transaksi. Hal ini menyebabkan harga saham oversold, lalu memicu lebih banyak likuidasi, membentuk lingkaran setan. Selain itu, saham yang likuidasi akan menjadi sangat kacau, investor ritel yang mengambil alih cenderung serakah dan tidak berpikir panjang, modal besar pun jadi enggan masuk. Jadi, setelah likuidasi margin, biasanya saham tersebut tidak disarankan untuk dibeli dalam jangka pendek.

Kembali ke kisah Bill Hwang, jumlah saham yang dia pegang sangat besar, saat margin call terjadi, pasar sama sekali tidak punya cukup pembeli untuk menampung, sehingga penjualan besar-besaran memicu reaksi berantai. Untuk menjaga margin, posisi lain miliknya juga dipaksa dilikuidasi, dan akhirnya semua saham yang dia miliki jatuh harga secara drastis dalam waktu singkat.

Lalu, apakah leverage itu berguna? Sebenarnya iya. Jika kamu yakin dengan suatu perusahaan tapi dana terbatas, kamu bisa menggunakan leverage untuk membeli secara bertahap, sehingga efisiensi modal lebih baik. Tapi kuncinya adalah memilih saham dengan likuiditas cukup besar dan kapitalisasi pasar yang besar, karena jika ada investor besar yang menghadapi likuidasi margin, harga saham bisa sangat volatil. Selain itu, perhatikan biaya bunga pinjaman margin, memilih waktu yang tepat sangat penting. Jika saham sedang konsolidasi di zona tekanan dan tidak bisa menembus, daripada terus membayar bunga, lebih baik langsung jual dan ambil keuntungan. Jika harga menembus support, harus berani cut loss.

Leverage adalah pedang bermata dua, risiko likuidasi margin tidak bisa diabaikan. Melakukan riset dan berdisiplin dalam beroperasi adalah kunci kemenangan jangka panjang dalam investasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan