Mengapa harga aset naik dan turun? Sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan, karena semuanya kembali ke satu prinsip dasar yaitu ketidakseimbangan antara pembeli dan penjual



Bulan lalu, Selat Hormuz ditutup, menyebabkan lebih dari 20% minyak mentah yang mengalir melalui jalur tersebut hilang dari pasar. Harga minyak langsung melonjak. Mengapa? Karena pasokan menyusut secara drastis, sementara permintaan energi (permintaan) tetap sama. Situasi seperti ini disebut Shock Pasokan

Inilah inti dari masalahnya, harga tidak ditentukan oleh angka atau rumus apa pun, tetapi didorong oleh daya tarik antara dua pihak. Satu pihak ingin membeli, sementara pihak lain ingin menjual. Ketika kedua pihak mencapai keseimbangan, harga akan berhenti bergerak

Mari kita lihat dari sudut pandang pembeli terlebih dahulu. Ketika harga naik, keinginan untuk membeli akan berkurang karena uang kita menjadi kurang berharga, atau karena kita mencari alternatif yang lebih murah. Sebaliknya, jika harga turun, kita memiliki lebih banyak uang tersisa dan siap membeli lebih banyak. Ini adalah aturan dasar, permintaan akan berhubungan terbalik dengan harga selalu

Penjual pun berbeda pendapat. Ketika harga tinggi, mereka bersedia menjual lebih banyak karena keuntungan juga meningkat. Tapi ketika harga rendah, mereka menunda penjualan karena tidak menguntungkan. Keinginan untuk menjual memiliki hubungan searah dengan harga

Ketika kita gabungkan kedua pihak, di titik di mana garis permintaan dan garis penawaran bertemu, itulah keseimbangan. Harga dan volume yang terbentuk di titik ini cenderung stabil, karena jika harga naik, penjual akan menjual lebih banyak, sementara pembeli mengurangi pembelian, menyebabkan stok menumpuk dan harga turun. Sebaliknya, jika harga turun, pembeli ingin lebih banyak, penjual menahan diri, menyebabkan kekurangan dan harga naik

Sekarang, mari terapkan konsep ini ke pasar saham. Saham juga merupakan barang. Ketika harga saham naik, menunjukkan kekuatan pembelian. Pembeli percaya bahwa perusahaan akan tumbuh atau kinerja akan membaik. Sebaliknya, jika harga saham turun, menunjukkan kekuatan penjualan yang besar, dan penjual kehilangan kepercayaan

Analisis teknikal menggunakan berbagai alat untuk menangkap gambaran kekuatan beli dan jual ini, seperti melihat candlestick. Jika berwarna hijau (harga penutupan lebih tinggi dari harga pembukaan), menunjukkan kekuatan beli menang. Jika berwarna merah, menunjukkan kekuatan jual menang. Atau melihat level resistance dan support, di mana support biasanya adalah titik di mana kekuatan beli menunggu untuk membeli, dan resistance adalah titik di mana kekuatan jual menunggu

Teknik Demand Supply Zone yang populer di pasar adalah mencari momen ketika harga kehilangan keseimbangan, melonjak naik atau turun dengan cepat, lalu beristirahat dalam kerangka tertentu. Ketika faktor baru masuk, harga akan menembus kerangka tersebut dan melanjutkan tren sebelumnya. Itu adalah momen trader masuk melakukan transaksi

Hal penting yang harus diingat adalah setiap pergerakan harga, baik saham, aset digital, maupun barang lain, semuanya didorong oleh dua kekuatan ini. Jika Anda mampu membaca kekuatan beli dan jual, Anda bisa memperkirakan harga dengan lebih baik, baik menggunakan analisis fundamental, teknikal, atau bahkan hanya dengan melihat candlestick di Gate.

Kuncinya adalah latihan. Cobalah melihat harga nyata di pasar, hadapi berbagai situasi, dan Anda akan semakin memahami gambaran ini secara lebih jelas
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar