CEO Goldman Sachs Solomon menulis surat di New York Times: Kepanikan tentang kiamat AI dibesar-besarkan, dampak terbesar pada pekerjaan kerah putih tetapi akan melahirkan posisi baru yang sepenuhnya berbeda

Apakah Kecerdasan Buatan Akan Memicu Pengangguran Massal? Pertanyaan inti yang membebani pasar tenaga kerja global ini, baru-baru ini mendapatkan salah satu suara paling berpengaruh di Wall Street. Ketua Eksekutif Goldman Sachs, David Solomon, pada 26 Mei menerbitkan artikel komentar berjudul "Saya CEO Goldman Sachs. Apokalips Pekerjaan AI Dibesar-besarkan." (I’m the C.E.O. of Goldman Sachs. The A.I. Job Apocalypse Is Overblown.) yang secara sistematis membantah narasi pesimis bahwa AI akan menghilangkan pekerjaan manusia.

Solomon secara tegas menyatakan bahwa meskipun AI memang akan memberi dampak pada industri tertentu, pengalaman sejarah berulang kali membuktikan bahwa kemajuan teknologi akhirnya akan menciptakan lebih banyak peluang kerja daripada yang hilang. Argumennya didasarkan pada tiga pilar utama: jejak sejarah peningkatan produktivitas, efek berantai dari pengeluaran modal berskala besar, dan munculnya kategori pekerjaan baru secara alami.

Dari Kepanikan ke Produktivitas: Bagaimana AI Meniru Jalur Perubahan Teknologi

Solomon mengakui bahwa perkembangan pesat AI memang memicu kecemasan luas di pasar tenaga kerja. Ekonom Goldman Sachs memperkirakan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, AI mungkin mengotomatisasi sekitar 25% dari jam kerja saat ini, dengan industri seperti perbankan, hukum, akuntansi, pengembangan perangkat lunak, dan layanan pelanggan yang paling terdampak. Isi pekerjaan di industri-industri ini meliputi pengolahan data besar, peninjauan dokumen, penulisan kode, dan komunikasi standar—semua bidang yang saat ini menjadi keahlian sistem AI.

Namun, dia juga menekankan bahwa ekonomi AS telah mengalami situasi serupa berkali-kali sebelumnya, mulai dari peralihan besar-besaran tenaga kerja pertanian selama Revolusi Industri, hingga otomatisasi manufaktur di era informasi yang memicu pengangguran struktural. Setiap guncangan teknologi ini akhirnya berhasil diserap oleh sistem ekonomi, meningkatkan tingkat pekerjaan dan standar hidup secara keseluruhan. AI kemungkinan akan mengikuti jalur yang sama: menghilangkan beberapa posisi sekaligus memperluas peluang di bidang lain secara lebih luas.

700 Miliar Dolar Pengeluaran Modal: Bonus AI di Lokasi Konstruksi

Solomon menunjukkan bukti konkret dan terukur: hanya tahun ini, perusahaan layanan cloud hyperscaler berencana menginvestasikan sekitar 700 miliar dolar dalam pengeluaran modal (capex). Investasi besar ini sendiri telah mendorong lonjakan pekerjaan di industri konstruksi di AS. Pembangunan pusat data, pabrik wafer, jaringan serat optik, dan infrastruktur AI lainnya membutuhkan banyak tenaga kerja—dari pekerja tulangan hingga teknisi listrik—yang tidak dapat digantikan oleh AI, tetapi muncul secara besar-besaran karena perkembangan AI.

Fenomena ini mengungkapkan aspek penting yang sering diabaikan oleh narasi "kiamat pekerjaan": AI bukan hanya teknologi pengganti pekerjaan, tetapi juga mesin penggerak investasi ekonomi nyata. Setiap pusat data baru, setiap jalur komputasi berkinerja tinggi yang baru, mewakili ribuan posisi konstruksi dan operasional.

Tantangan Struktural di Industri Pekerjaan Kantoran

Meskipun narasi secara umum cenderung optimis, Solomon tidak menutup mata terhadap dampak nyata AI terhadap pasar tenaga kerja. Ia menyoroti bahwa industri pekerjaan kantoran akan menjadi pusat dari gelombang perubahan teknologi ini:

Di sektor keuangan, AI sudah mampu menangani proses persetujuan pinjaman, penilaian risiko, dan kepatuhan regulasi—yang sebelumnya dilakukan oleh analis; di bidang hukum, sistem peninjauan dokumen berbasis AI dapat menyelesaikan pencocokan dokumen dalam hitungan detik, pekerjaan yang dulu memakan waktu berminggu-minggu bagi puluhan asisten pengacara; di bidang akuntansi dan audit, tingkat otomatisasi juga semakin meningkat.

Namun, Solomon berpendapat bahwa industri-industri ini tidak akan hilang, melainkan akan mengalami perubahan struktural dalam posisi pekerjaan. Pekerjaan berulang dengan nilai tambah rendah akan digantikan oleh AI, tetapi pembangunan, pengelolaan, verifikasi, dan pengawasan sistem AI akan menciptakan banyak posisi profesional baru. Posisi-posisi ini membutuhkan kemampuan penilaian yang lebih tinggi, pemecahan masalah yang lebih kompleks, dan kemampuan kritis terhadap output AI.

Blueprint Pekerjaan Baru: Dari Pengelolaan Sistem AI Hingga Verifikasi Regulasi

Dalam artikelnya, Solomon menyebutkan bahwa AI akan memunculkan setidaknya empat kategori pekerjaan baru: administrator sistem AI, yang bertanggung jawab atas operasi harian dan penanganan anomali; konsultan implementasi AI, membantu perusahaan mengintegrasikan AI ke dalam proses yang sudah ada; insinyur verifikasi AI, memastikan akurasi dan keadilan output AI; dan petugas pengawasan AI, menangani masalah kepatuhan dan etika. Posisi-posisi ini bukan sekadar imajinasi futuristik, melainkan sudah mulai terbentuk di Goldman Sachs dan institusi Wall Street lainnya.

Perlu dicatat bahwa Solomon tidak berbicara dari sudut pandang yang terisolasi. Goldman Sachs sendiri telah mengadopsi banyak alat AI secara internal, mulai dari analisis pendukung strategi perdagangan hingga sistem respons cerdas layanan pelanggan. Pengalaman yang dia bagikan berasal dari pengamatan langsung di perusahaan raksasa Wall Street ini selama proses transformasi AI.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar