Biasanya tidak ada yang tertarik untuk trading minyak, tetapi sekarang menjadi topik yang paling hangat di pasar. Hal ini disebabkan oleh krisis Selat Hormuz yang terjadi dua atau tiga bulan yang lalu, yang merupakan krisis energi terbesar sejak era 70-an.



Saat itu harga minyak WTI dan Brent melonjak lebih dari 20% dalam satu hari karena Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak sebesar 31% dari dunia, ditutup. Goldman Sachs memperkirakan jika penutupan ini berlangsung selama lima minggu berturut-turut, harga bisa menembus 100-150 dolar per barel. Sementara RBC Capital Markets mengatakan ini adalah kejutan energi terburuk sejak era 70-an.

Lalu, jika kita ingin trading minyak agar mendapatkan keuntungan di saat seperti ini, harus melakukan apa? Ada beberapa cara yang bisa dicoba tergantung pada modal dan risiko yang dapat diterima.

Cara pertama adalah CFD atau kontrak selisih harga, yang sangat populer di kalangan trader ritel yang ingin trading minyak. CFD memungkinkan Anda menebak arah harga tanpa harus memiliki minyak fisik. Bisa mendapatkan keuntungan baik saat harga naik maupun turun. Simbolnya adalah USOIL (WTI) dan UKOIL (Brent). Keunggulannya adalah leverage tinggi, modal kecil tetapi bisa mengendalikan volume besar, dan bisa trading 24 jam. Kerugiannya adalah volatilitas 25-30% per hari saat ini, yang meningkatkan risiko tinggi. Bisa terkena stop loss sebelum pasar bergerak sesuai prediksi.

Cara kedua adalah ETF minyak, seperti USO atau BNO. Risikonya lebih rendah dibanding CFD karena tidak ada leverage, biaya rendah, dan mudah diperdagangkan. Cocok untuk investasi jangka panjang, tetapi peluang keuntungan lebih terbatas.

Cara ketiga adalah Futures, yaitu kontrak yang memperjualbelikan minyak dengan harga yang disepakati di muka. Leverage tinggi, likuiditas baik, tetapi memiliki tanggal kedaluwarsa dan volatilitas sangat tinggi. Pada 9 Maret lalu, volume trading Futures mencapai rekor 954.254 kontrak. Hanya cocok untuk profesional.

Cara keempat adalah berinvestasi di saham minyak, seperti PTT atau PTTEP. Harga saham mengikuti harga minyak, mudah diperdagangkan melalui broker umum, tidak memiliki tanggal kedaluwarsa, dan mendapatkan dividen. Tetapi, harga saham tidak selalu bergerak langsung mengikuti minyak.

Cara kelima adalah membeli minyak fisik, tetapi untuk trader ritel hampir tidak mungkin karena membutuhkan modal puluhan juta baht, serta masalah logistik, penyimpanan, dan regulasi.

Pasar minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Sikap AS terhadap Iran sangat berpengaruh terhadap harga. Kebijakan OPEC+ dan kapasitas produksi juga penting. Permintaan dari Asia, terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang menyerap 70% minyak dari Selat Hormuz, nilai tukar dolar, dan data stok minyak EIA juga berpengaruh.

Bagi yang ingin masuk ke pasar forex atau trading forex minyak, saran utama adalah mengelola risiko secara ketat. Terapkan Stop Loss di setiap order, kurangi ukuran posisi karena volatilitas yang tidak normal, pantau berita diplomasi 24 jam, jangan gunakan leverage maksimal, dan pilih broker yang diawasi dengan baik. Pasar minyak saat ini penuh peluang, tetapi juga penuh risiko.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar