Belakangan ini saya menelusuri tren euro selama 20 tahun terakhir, dan menemukan sebuah fenomena yang cukup menarik. Sebagai mata uang cadangan terbesar kedua di dunia, euro telah mengalami puncak kejatuhan selama krisis keuangan 2008, kemudian penyesuaian mendalam selama krisis utang Eropa, hingga dampak energi dan perbedaan kebijakan bank sentral dalam beberapa tahun terakhir. Sejarah ini sebenarnya merangkum gambaran perubahan ekonomi global.



2008 adalah titik balik. Saat itu euro terhadap dolar mencapai puncak tertinggi sejarah di 1.6038, tetapi seiring meletusnya krisis subprime di Amerika Serikat, sistem perbankan Eropa tertekan, kredit mengerut, dan resesi ekonomi pun menyusul. Pemerintah di berbagai negara terpaksa meningkatkan defisit fiskal secara besar-besaran, sementara Bank Sentral Eropa memulai pelonggaran kuantitatif selama bertahun-tahun. Serangkaian peristiwa ini melemahkan kepercayaan pasar terhadap euro, dan dana mulai mengalir kembali ke Amerika Serikat.

Yang menarik adalah, awal 2017 menjadi titik balik. Setelah hampir sembilan tahun mengalami penurunan, euro rebound di sekitar 1.034. Saat itu, krisis utang Eropa sudah hampir terselesaikan, kebijakan pelonggaran Bank Sentral Eropa mulai menunjukkan hasil, tingkat pengangguran turun di bawah 10%, PMI manufaktur melewati 55, dan ekspektasi terhadap perbaikan ekonomi zona euro meningkat secara signifikan. Ditambah lagi, tahun itu adalah tahun pemilihan utama di negara-negara Eropa, yang meningkatkan sentimen optimisme pasar dan mendorong euro naik. Pada Februari 2018, euro sempat naik ke 1.2556, tetapi seiring Federal Reserve terus menaikkan suku bunga, pertumbuhan ekonomi zona euro melambat, dan ketidakstabilan politik di Italia, euro mulai melemah lagi.

Kejatuhan terendah sebenarnya terjadi pada September 2022. Perang Rusia-Ukraina, krisis energi, dan lonjakan inflasi menyebabkan euro jatuh ke 0.9536, mencapai level terendah dalam 20 tahun. Saat itu, pasar penuh kekhawatiran akan resesi ekonomi Eropa, dan sentimen safe haven mendorong dolar menguat. Tetapi sejak tahun lalu, situasi mulai berbalik. Bank Sentral Eropa mulai menaikkan suku bunga, harga energi perlahan pulih, dan kekhawatiran terhadap situasi perang juga berkurang.

Gelombang pasar terbaru ini pun lebih menarik lagi. Awal 2025, euro sempat turun ke sekitar 1.02, menyentuh level terendah dalam dua tahun, terutama karena ekonomi zona euro yang lemah, Jerman yang mengalami resesi berturut-turut, dan terus lemahnya sektor manufaktur. Pada saat yang sama, Federal Reserve menurunkan suku bunga jauh lebih lambat dibandingkan Bank Sentral Eropa, sehingga spread suku bunga AS-Eropa melebar dan dana mengalir ke dolar. Tetapi mulai Maret, euro rebound dengan cepat, dan pada akhir Januari tahun ini menembus di atas 1.20. Pendorong rebound ini cukup jelas: kepercayaan terhadap dolar terguncang, kebijakan Trump yang bergejolak menimbulkan kekhawatiran investor, dan dana mulai "menjual Amerika."

Situasi saat ini adalah Federal Reserve diperkirakan akan terus menurunkan suku bunga, sementara Bank Sentral Eropa cenderung mempertahankan suku bunga karena stabilitas inflasi, sehingga spread suku bunga AS-Eropa menyempit dan mendorong euro menguat. Ekspansi fiskal besar-besaran di Jerman juga menjadi faktor pendukung utama. Jika faktor-faktor ini terus berkembang, euro berpotensi tetap kuat di kisaran 1.20-1.25. Tentu saja, geopolitik dan harga energi tetap menjadi variabel, dan setiap konflik yang meningkat atau lonjakan harga energi bisa mengubah skenario.

Bagi investor Taiwan, saat ini euro terhadap dolar Hong Kong berada pada posisi relatif rendah secara historis, dan rebound euro ini patut diperhatikan. Baik melalui transaksi valas bank, platform CFD, maupun pasar futures, ada peluang untuk ikut serta dalam tren ini. Dalam jangka pendek, perbedaan kebijakan AS-Eropa dan stimulus fiskal Jerman kemungkinan akan terus mendukung euro. Dalam jangka panjang, tergantung apakah zona euro benar-benar mampu pulih secara ekonomi, dan bagaimana risiko geopolitik global berkembang.

Secara sederhana, tren euro dalam beberapa tahun ke depan bergantung pada tiga variabel utama: perbedaan kebijakan suku bunga antara bank sentral AS dan Eropa, prospek pertumbuhan ekonomi zona euro, serta geopolitik dan harga energi. Jika Federal Reserve terus menurunkan suku bunga, stimulus fiskal di Eropa berjalan lancar, dan risiko energi berkurang, momentum rebound euro akan sangat terlihat. Tetapi untuk mencapai tren penguatan satu arah secara konsisten, tentu cukup sulit. Ke depannya, perlu memperhatikan perubahan spread suku bunga AS-Eropa, data pelaksanaan anggaran Jerman, dan perkembangan risiko geopolitik terkait.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar