Belakangan ini melihat banyak trader pemula membahas masalah forced liquidation, saya rasa perlu menjelaskan hal ini dengan jelas karena ini benar-benar salah satu risiko paling mudah diabaikan namun paling mematikan dalam trading.



Pertama, mari kita bahas apa itu forced liquidation. Secara sederhana, ketika level margin akun Anda turun ke level stop-loss yang ditetapkan oleh broker, sebagian atau seluruh posisi terbuka Anda akan secara otomatis dilikuidasi. Biasanya ini terjadi ketika margin Anda tidak cukup untuk menopang posisi trading yang Anda miliki. Misalnya, level stop-loss broker adalah 10%, dan level margin call adalah 20%, maka ketika nilai bersih Anda turun ke 20% dari margin yang digunakan, Anda akan menerima pemberitahuan margin call; jika terus tidak menambah dana, nilai bersih akun Anda akan turun ke 10%, dan broker akan langsung menutup posisi Anda.

Saya sendiri pernah melihat beberapa trader mengalami kerugian besar karena forced liquidation. Penyebab paling umum tentu saja: kekurangan dana di akun, penggunaan leverage yang terlalu tinggi, tidak memantau volatilitas pasar secara tepat waktu, atau sama sekali tidak memahami batasan pengendalian risiko dari platform trading. Terutama di pasar derivatif, trading dengan leverage tinggi begitu trigger forced liquidation, kerugiannya tidak kecil lagi.

Dampak forced liquidation sebenarnya cukup serius. Pertama, kerugian dana secara langsung, Anda mungkin terpaksa menjual aset di saat yang paling tidak menguntungkan, sehingga melewatkan peluang rebound selanjutnya. Kedua, strategi investasi awal Anda terganggu, terutama bagi trader yang melakukan posisi jangka panjang, tiba-tiba forced liquidation akan sangat memaksa dan membuat posisi menjadi sangat pasif. Ketiga, jika banyak investor menghadapi forced liquidation secara bersamaan, likuiditas pasar akan sangat terguncang, harga akan sangat volatil, bahkan bisa memicu reaksi berantai.

Lalu, bagaimana cara menghindari forced liquidation? Pengalaman saya menyarankan beberapa poin kunci. Pertama, pastikan akun memiliki dana yang cukup. Anda harus menghitung kebutuhan margin berdasarkan ukuran posisi Anda, dan pastikan dana di akun jauh melebihi kebutuhan tersebut. Hitung saja, rumus level margin adalah (nilai bersih akun ÷ margin yang digunakan) × 100%, angka ini semakin tinggi semakin aman.

Kedua, leverage harus digunakan dengan hati-hati. Saya pernah melihat banyak orang terbakar karena leverage. Leverage memang bisa memperbesar keuntungan, tetapi juga memperbesar kerugian. Anda harus tahu dengan jelas berapa kali leverage yang digunakan, risiko yang terkait seberapa besar, dan sesuaikan dengan kemampuan risiko Anda.

Ketiga, pantau volatilitas pasar secara ketat. Volatilitas pasar adalah penyebab utama trigger forced liquidation, jadi Anda harus sering memeriksa kondisi posisi, melihat apakah ada peristiwa besar yang berpotensi mempengaruhi posisi Anda. Analisis teknikal dan fundamental keduanya bisa membantu Anda menilai risiko.

Terakhir, pahami aturan pengendalian risiko dari platform trading Anda. Berbeda broker memiliki pengaturan forced liquidation yang berbeda, Anda harus memastikan memahami bagaimana aturan di platform Anda. Dengan begitu, Anda bisa menghindari jebakan. Singkatnya, forced liquidation adalah bom waktu dalam trading, tetapi selama Anda melakukan manajemen dana yang baik, mengendalikan leverage, dan memantau pasar, Anda benar-benar bisa menghindarinya dari meledak.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar