Belakangan ini banyak pemula bertanya apa arti dari likuidasi paksa dalam cryptocurrency, sebenarnya pertanyaan ini layak dibahas dengan baik karena banyak orang yang sudah mengalami kerugian. Singkatnya, likuidasi paksa adalah ketika kamu salah arah dalam posisi trading, sampai modal jaminanmu tidak cukup lagi, sistem langsung menutup semua posisi kamu tanpa memberi kesempatan untuk balik modal. Kedengarannya sangat menakutkan, kan? Tapi sebenarnya jika memahami prinsipnya, banyak situasi yang bisa dihindari.



Alasan paling umum terjadinya likuidasi adalah penggunaan leverage yang terlalu besar. Saya pernah melihat banyak orang menggunakan modal 100 juta dengan leverage 10 kali untuk bertransaksi, sama saja bermain dengan posisi senilai 1 miliar. Dengan begitu, selama pasar bergerak berlawanan arah sebesar 1%, modal kamu akan kehilangan 10%. Jika volatilitas berbalik mencapai 10%, margin akan hilang seketika, langsung dipanggil margin call dan dipaksa keluar dari posisi, bahkan bisa membuat kamu merasa hidup kembali. Banyak orang awalnya merasa bisa mengendalikan risiko, tetapi perubahan pasar sering kali jauh lebih cepat dari perkiraan.

Selain masalah leverage, ada juga beberapa strategi yang sangat rawan tersandung. Misalnya, mental ingin menahan posisi, padahal sudah rugi tapi tetap berpikir "nanti akan rebound," padahal tiba-tiba pasar melonjak turun, broker langsung menutup posisi dengan harga pasar saat pembukaan, kerugian jauh melebihi ekspektasi. Atau tidak menghitung biaya tersembunyi, saat melakukan day trading lupa menambah margin, keesokan harinya langsung likuidasi. Penjual opsi yang menghadapi lonjakan volatilitas tiba-tiba, margin yang diminta bisa berlipat ganda, semua ini adalah jebakan umum.

Risiko likuidasi dalam cryptocurrency sangat tinggi karena fluktuasi pasar crypto memang sangat besar. Saya ingat Bitcoin pernah mengalami fluktuasi 15% dalam satu hari yang langsung menyebabkan banyak investor di seluruh jaringan mengalami likuidasi. Lebih menakutkan lagi, likuidasi dalam crypto tidak hanya menghabiskan margin, tetapi juga bisa membuat koin yang kamu beli hilang begitu saja. Peristiwa black swan seperti pandemi 2020, perang Ukraina-Rusia, ada yang mengalami penurunan harga terus-menerus sampai limit down, bahkan broker pun tidak mampu menutup posisi, margin terpotong habis dan malah berutang, menghadapi risiko margin call.

Trading margin forex juga termasuk risiko tinggi. Banyak orang suka leverage karena bisa masuk pasar dengan modal lebih kecil, tapi risikonya juga besar. Jika rasio dana muka di akun turun ke batas minimum yang ditetapkan platform (biasanya 30%), broker akan memaksa menutup posisi. Misalnya, saldo akun 500 dolar AS tapi kerugian 450 dolar, tinggal 50 dolar, sistem otomatis akan menutup posisi.

Dalam saham, situasinya sedikit berbeda. Jika kamu membeli saham dengan 100% dana sendiri, paling aman, meskipun harga saham turun ke nol, kerugiannya hanya modal sendiri, tidak berutang ke broker. Tapi jika menggunakan margin atau day trading, lain ceritanya. Margin call akan muncul jika rasio pemeliharaan di bawah 130%, dan jika tidak menambah dana, posisi akan dipaksa keluar. Jika gagal melakukan day trade dan posisi tetap terbuka, dan keesokan harinya turun limit down, broker langsung menutup posisi, dan jika margin tidak cukup, likuidasi terjadi.

Untuk menghindari likuidasi, alat paling praktis adalah stop loss dan take profit. Stop loss adalah menetapkan harga otomatis untuk menutup posisi saat harga mencapai titik tertentu, agar kerugian tidak semakin besar. Take profit adalah menetapkan target harga otomatis untuk mengamankan keuntungan saat harga mencapai target tersebut. Kedua fitur ini sangat penting untuk mengendalikan risiko. Jika pemula tidak tahu cara mengaturnya, bisa pakai metode persentase sederhana, misalnya menetapkan 5% di atas dan di bawah harga beli, sehingga tidak perlu terus-menerus waspada dan tegang saat melihat pasar.

Fasilitas perlindungan lain adalah perlindungan saldo negatif. Bursa yang diawasi harus menyediakan perlindungan ini, yaitu kamu tidak akan berutang ke broker melebihi saldo di akun. Jika kerugian sampai habis, sisa kerugian akan ditanggung oleh broker sendiri. Tapi beberapa broker, untuk menghindari kerugian besar akibat leverage tinggi, akan secara aktif menurunkan leverage sebelum pasar bergerak besar.

Pada akhirnya, risiko likuidasi dalam crypto memang ada, tapi bukan berarti tidak bisa dipakai. Kuncinya adalah memiliki kesadaran risiko yang benar, jangan sembarangan mengejar leverage tinggi. Pahami dulu prinsip likuidasi, manfaatkan stop loss dan take profit, dan lakukan investasi secara rutin dan bertahap, bukan all-in yang berisiko 100 kali lipat. Investasi memang ada untung dan rugi, sebelum melakukan transaksi apapun, harus memahami pengetahuan trading dengan baik, tetapkan batasan stop loss dan take profit, agar bisa berpartisipasi di pasar secara jangka panjang dengan stabil.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar