Saya menyadari bahwa aluminium mulai menarik perhatian trader secara serius tahun ini. Logam yang sebelumnya hanya diikuti oleh industri saja kini masuk dalam daftar pantauan sebagian besar investor, terutama setelah kenaikan yang kuat yang dialaminya. Harga mencapai 3.703 dolar per ton pada pertengahan Mei, tertinggi sejak Maret 2022, dengan kenaikan tahunan lebih dari 45%. Ini bukan sekadar pergerakan sementara, melainkan mencerminkan perubahan nyata dalam cara pasar memandang logam ini.



Pertanyaan yang ada di pikiran saya sekarang adalah: apakah aluminium mampu mempertahankan momentum ini hingga 2030? Jawabannya tidak sederhana, karena bergantung pada faktor-faktor kompleks mulai dari permintaan industri, kebijakan China, harga energi, hingga kekuatan dolar.

Dari segi proyeksi, sebagian besar lembaga keuangan besar cenderung optimisme hati-hati. Bank Dunia memperkirakan rata-rata 3.200 dolar per ton pada 2026, sementara Citi lebih optimis dengan target 3.600 dolar sebagai target jangka pendek. Goldman Sachs lebih konservatif, memperkirakan 2.800 dolar sebagai rata-rata di 2027. Tapi kenyataannya, sebagian besar prediksi ini fokus pada jangka pendek dan menengah, sedangkan pandangan hingga 2030 kurang jelas dan lebih bergantung pada tren umum.

Faktor utama yang mendukung pandangan positif adalah pergeseran menuju energi bersih. Mobil listrik, energi surya, dan jaringan listrik modern semuanya membutuhkan aluminium dalam jumlah besar. Institut Aluminium Internasional memperkirakan peningkatan permintaan global sekitar 40 persen hingga 2030. Ini bukan angka kecil, dan memberikan dasar yang mendukung harga dalam jangka panjang.

Namun, ada masalah yang bisa menghambat kenaikan. Pertama, stok aluminium mulai menurun, yang merupakan hal positif jangka pendek tetapi mungkin tidak berlanjut. Kedua, jika China meningkatkan produksinya atau permintaan dari sektor properti melambat, kita bisa melihat tekanan nyata terhadap harga. Ketiga, kekuatan dolar AS membuat logam ini lebih mahal bagi pembeli global, yang bisa menekan permintaan.

Secara teknikal, saya melihat tiga skenario jelas hingga 2030. Skenario pertama positif: jika harga menembus area 3.750 hingga 3.800 dolar dan bertahan di atasnya pada kerangka bulanan, kita mungkin melihat gelombang kenaikan baru yang mendorong harga menuju 4.000 dolar dan lebih tinggi. Skenario kedua netral: jika gagal menembus tetapi aluminium tetap di atas 3.000 hingga 3.200 dolar, maka bisa tetap dalam kisaran lebar selama bertahun-tahun tanpa tren yang jelas. Skenario ketiga negatif: jika menembus support di 3.000 hingga 3.200 dolar, ini bisa membuka jalan untuk koreksi lebih dalam ke 2.700 hingga 2.900 dolar.

Jika Anda ingin terpapar pergerakan harga aluminium tanpa harus memiliki logam fisik atau terlibat kontrak kompleks, kontrak selisih (CFD) menawarkan fleksibilitas nyata. Anda bisa membeli jika memperkirakan kenaikan berlanjut, atau menjual jika memperkirakan koreksi. Yang penting adalah mengelola risiko dengan hati-hati, terutama karena aluminium sangat sensitif terhadap berita dari China, stok, dan energi.

Kesimpulan: aluminium adalah logam yang menjanjikan untuk tahun-tahun mendatang hingga 2030, tetapi bukan investasi yang pasti. Permintaan industri jangka panjang mendukungnya, tetapi volatilitas jangka pendek bisa tajam. Jika Anda mengikuti pasar ini, fokuslah pada level teknikal penting dan pantau data dari China, harga energi, dan dolar. Faktor-faktor ini akan menentukan apakah aluminium akan mempertahankan momentum atau memasuki fase koreksi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan