Dulu saya cukup keras kepala dengan mainnet, merasa itu yang "resmi", tapi setiap kali terjadi kemacetan, gas seolah-olah sedang menguji mental saya: apakah nilainya sepadan. Sekarang saya lebih realistis—untuk interaksi kecil sehari-hari dan operasi yang sering, saya biasanya pakai L2, naik ke sana dianggap sebagai "tempat percobaan yang murah", fokus dulu agar proses berjalan lancar; kalau memang butuh transaksi besar, jangka panjang, atau melibatkan izin/upgrade, baru saya kembali ke mainnet, mahal tapi sekali saja, tidur nyenyak lebih tenang.



Belakangan L2 saling berdebat tentang TPS, biaya transaksi, subsidi ekosistem, saya merasa ini seperti perang volatilitas: semua angka bisa diatur, pengalaman adalah yang utama. Bagi saya, ada dua kompromi: jangan sampai asset tersebar dan tidak bisa saya kendalikan demi menghemat beberapa rupiah; juga jangan sampai karena "rasa aman" setiap kali harus pakai mainnet bayar biaya pelajaran. Bagaimanapun, kebiasaan saya sekarang adalah: kalau bisa batch, batch saja; kalau bisa minim tanda tangan, minim tanda tangan; gas yang dihemat bukan uang, tapi mental.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan