Saya ingat pertama kali melihat grafik, terasa sangat rumit. Lilin-lilin yang berbentuk seperti lilin ditempel rapat-rapat, dan garis berwarna-warni berseliweran di atasnya. Tapi sebenarnya cukup sederhana. Alat-alat ini pada akhirnya hanya untuk membaca pergerakan harga saham dengan lebih jelas.



Mari kita mulai dari grafik lilin. Lilin berwarna hijau menunjukkan hari di mana harga naik, sedangkan merah menunjukkan hari di mana harga turun. Tubuh tebal dari lilin menunjukkan harga pembukaan dan penutupan, dan garis tipis yang memanjang ke atas dan ke bawah (sumbu) menunjukkan harga tertinggi dan terendah hari itu. Semakin panjang tubuhnya, berarti fluktuasi hari itu besar. Terutama jika muncul lilin panjang secara tiba-tiba, itu adalah sinyal bahwa sesuatu sedang terjadi, jadi harus diperhatikan dengan seksama.

Sekarang bagian penting, yaitu garis support dan resistance. Pernah melihat harga saham sering memantul di level harga tertentu? Garis yang menghubungkan titik-titik tersebut disebut garis support. Sebaliknya, jika menghubungkan titik-titik di mana harga tidak mampu melewati level tertentu dan terus turun, itu disebut garis resistance. Resistance sering digunakan sebagai sinyal jual, karena jika harga menyentuh resistance, kemungkinan besar akan turun. Namun, jika resistance ditembus dan harga naik melewati garis tersebut, garis resistance itu bisa menjadi support baru. Konsep ini sangat penting.

Selanjutnya adalah garis moving average. Yang sering muncul di berita sebagai 'moving average' adalah garis yang menunjukkan rata-rata harga selama periode tertentu. Ada garis moving average 5 hari, 20 hari, 60 hari, dan sebagainya. Cara melihat susunan garis ini bisa membantu memahami tren. Jika moving average jangka pendek berada di atas moving average jangka panjang, itu menunjukkan tren naik (urutan positif), dan jika di bawah, tren turun (urutan terbalik). Cara paling praktis adalah dengan menangkap golden cross dan dead cross. Golden cross terjadi saat garis jangka pendek menembus ke atas garis jangka panjang, sebagai sinyal beli. Sebaliknya, dead cross saat garis jangka pendek menembus ke bawah garis jangka panjang, sebagai sinyal jual.

Terakhir adalah indikator OBV. Juga disebut indikator volume akumulatif, didasarkan pada prinsip bahwa volume perdagangan mendahului harga. Volume hari-hari kenaikan ditambahkan, dan volume hari-hari penurunan dikurangi. Jika harga naik tetapi OBV hampir tidak berubah, itu adalah sinyal bahwa kekuatan beli melemah. Jika volume tidak mendukung, tren kenaikan sulit dipertahankan.

Intinya, semua alat ini sebaiknya digunakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Hanya mengandalkan support dan resistance saja, atau moving average saja, tidak cukup. Harus menggabungkan beberapa indikator agar bisa membuat penilaian yang lebih akurat. Awalnya mungkin terlihat rumit, tapi jika sering melihat grafik, akan terbaca secara alami. Dasar-dasar ini akan menjadi fondasi pengambilan keputusan investasi yang cerdas.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan