Belakangan ini saya memperhatikan tren dolar AS terhadap yen Jepang, dan menemukan fenomena yang cukup menarik—yen terus turun tanpa henti. Hingga pertengahan Mei, dolar AS terhadap yen masih berkisar di sekitar 159, mendekati angka 160, sudah sangat dekat dengan batas atas tersebut, dan melemah cukup jauh dari awal tahun. Nilai tukar efektif nyata bahkan mencapai level terendah dalam hampir 53 tahun terakhir, lalu apa sebenarnya yang terjadi di balik semua ini?



Kalau bicara kenapa yen Jepang begitu buruk, harus mulai dari beberapa faktor struktural. Pertama adalah masalah selisih suku bunga AS-Jepang—suku bunga di AS tetap tinggi, sementara Bank of Japan meskipun menaikkan suku bunga, langkahnya jelas tidak secepat dan sekuat itu. Ini menciptakan lingkungan arbitrase yang sangat menguntungkan: meminjam yen Jepang yang rendah bunganya untuk berinvestasi di aset dolar AS yang berimbal tinggi, ini sangat menguntungkan bagi para investor. Jadi, yen terus dijual, tekanan depresiasi sangat besar.

Ditambah lagi, pemerintah Jepang yang baru tahun lalu meluncurkan kebijakan stimulus fiskal besar-besaran, penerbitan obligasi pemerintah meningkat, kekhawatiran defisit meningkat, pasar khawatir risiko fiskal akan meningkat, dan ini semakin menekan yen. Lalu ada juga situasi di Timur Tengah—Jepang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, Selat Hormuz yang terblokir secara langsung mengancam keamanan energi, harga minyak yang tinggi meningkatkan biaya impor, dan defisit perdagangan membesar.

Kalau bicara kebijakan Bank of Japan, ini adalah faktor kunci yang menentukan arah yen. Sejak menaikkan suku bunga menjadi 0,75% sejak Desember tahun lalu, bank sentral ini terus menunggu dan melihat. Awalnya pasar memperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1,0% pada April, tetapi konflik di Timur Tengah mengacaukan rencana, dan bank sentral memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Namun, menurut analisis lembaga pasar, Juni sudah menjadi waktu kunci berikutnya untuk kenaikan suku bunga, dan peluang pasar untuk kenaikan suku bunga di bulan Juni sudah meningkat ke 76%.

Kalau bank sentral benar-benar menaikkan suku bunga di bulan Juni, selisih suku bunga AS-Jepang akan menyempit, membuat yen lebih menarik, dan sebagian dana arbitrase mungkin akan kembali. Tapi untuk benar-benar membalikkan tren yen, harus ada reformasi struktural di dalam negeri Jepang. Pertumbuhan ekonomi harus meningkat secara signifikan, siklus “upah-harga” yang sehat harus stabil, baru yen bisa benar-benar menguat.

Dalam jangka pendek, pasar umumnya memperkirakan yen akan tetap lemah dan berkonsolidasi, dengan dolar AS terhadap yen berkisar antara 152 sampai 158. Kepala strategi valas di JP Morgan bahkan paling pesimis, memperkirakan yen bisa jatuh ke 164 hingga akhir tahun ini. Analis dari BNP Paribas juga memperkirakan yen akan turun ke 160. Alasan mereka hampir sama—lingkungan makro global diperkirakan tetap mendukung sentimen risiko, arbitrase akan terus berlangsung, dan Federal Reserve mungkin akan lebih hawkish dari perkiraan, sehingga dolar tetap kuat.

Untuk menilai tren yen, saya rangkum 4 faktor kunci. Pertama, inflasi CPI—kalau inflasi meningkat, bank sentral mungkin akan menaikkan suku bunga yang akan menguatkan yen; kalau inflasi menurun, bank sentral tidak perlu mengubah kebijakan pelonggaran, dan yen bisa melemah dalam jangka pendek. Kedua, data pertumbuhan ekonomi—GDP dan PMI yang menguat menunjukkan bank sentral punya ruang untuk mengencangkan kebijakan, mendukung yen; sebaliknya, perlambatan ekonomi akan memaksa bank sentral tetap longgar, tidak menguntungkan yen. Selanjutnya, pernyataan bank sentral—ucapan Ueda dan lainnya bisa diinterpretasikan pasar secara berlebihan, dan dalam jangka pendek mempengaruhi volatilitas yen. Terakhir, jangan lupa situasi pasar internasional—kebijakan bank sentral berbagai negara langsung mempengaruhi nilai tukar relatif, dan yen secara historis juga memiliki sifat safe haven, sering dibeli saat krisis.

Sejujurnya, dalam jangka pendek, faktor utama yang membuat yen sulit menguat adalah selisih suku bunga AS-Jepang yang melebar dan lambatnya perubahan kebijakan bank sentral. Tapi dari sudut pandang jangka panjang, yen akhirnya akan kembali ke level yang seharusnya. Untuk trader di pasar valuta asing, bisa merujuk analisis ini dan menggabungkannya dengan toleransi risiko masing-masing. Kalau ingin bertransaksi, bisa pertimbangkan platform yang diawasi, misalnya broker yang menyediakan lebih dari 70 pasangan mata uang, dan gunakan akun demo untuk latihan, agar tidak khawatir kehilangan dana nyata. Yang terpenting adalah manajemen risiko yang baik, jangan sampai terkejut oleh fluktuasi pasar.
JPM-0,1%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan