Belakangan ini selalu ada yang bertanya apakah nilai tukar dolar AS akan terus turun, pertanyaan ini memang tepat sasaran. Dari tren selama satu tahun terakhir, indeks dolar mengalami tekanan penurunan yang jelas, dan tren ini kemungkinan akan berlanjut hingga tahun 2026.



Saya akan menguraikan dulu siklus sejarah dolar. Sejak runtuhnya sistem Bretton Woods pada tahun 1971, indeks dolar telah melewati delapan fase yang jelas. Pada tahun 70-an, pemerintahan Nixon meninggalkan standar emas, dolar memasuki masa banjir, kemudian menghadapi krisis minyak, dan terus merosot ke bawah di bawah angka 90. Pada tahun 80-an, Ketua Federal Reserve sebelumnya, Volcker, mengendalikan inflasi secara tegas, menaikkan suku bunga dana federal hingga 20%, dan dolar mulai rebound, mencapai puncaknya pada tahun 1985.

Kisah berikutnya malah lebih menarik. Ledakan internet di tahun 90-an, krisis keuangan tahun 2000-an, QE tak terbatas selama pandemi tahun 2020, hingga kenaikan suku bunga agresif setelah 2022, indeks dolar seperti naik turun roller coaster, berulang kali berganti kekuatan dan kelemahan. Sekarang kita berada di posisi apa? Dari sudut pandang teknikal, indeks dolar sudah mengalami penurunan berkelanjutan, menembus di bawah rata-rata 200 hari, yang biasanya dianggap sebagai sinyal bearish.

Mengapa nilai tukar dolar AS masih bisa turun? Kuncinya terletak pada pergeseran kebijakan Federal Reserve. Data ketenagakerjaan tahun lalu yang tidak sesuai ekspektasi membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga, yang langsung melemahkan daya tarik dolar. Imbal hasil obligasi AS menurun, dana mulai mencari peluang investasi lain, sehingga dolar secara alami menghadapi tekanan. Dari sudut pandang makro, jika Federal Reserve terus melanjutkan kebijakan pelonggaran dan data ekonomi tetap lemah, indeks dolar kemungkinan besar akan terus menurun hingga tahun 2026, dengan level support di bawah 102.

Namun, ini bukan penurunan satu arah yang sederhana. Kita perlu melihat pasangan mata uang tertentu. Untuk euro terhadap dolar, berkat pelemahan dolar dan perbaikan kebijakan ECB, EUR/USD berpotensi terus naik, dengan resistansi utama di 1.09. Poundsterling terhadap dolar juga serupa, karena Bank of England menurunkan suku bunga lebih lambat dibandingkan Fed, memberikan dukungan pada GBP, dan diperkirakan GBP/USD akan berfluktuasi di kisaran 1.25-1.35 dan cenderung naik.

Untuk dolar terhadap yuan, situasinya lebih kompleks. Harus memperhatikan kebijakan Fed dan sikap Bank Sentral China. Saat ini dolar berada di kisaran 7.23-7.26, dan dalam jangka pendek belum ada dorongan untuk menembus level tersebut. Sedangkan dolar terhadap yen, seiring pemulihan ekonomi Jepang dan ekspektasi kenaikan suku bunga, dolar menghadapi tekanan penurunan, dan secara teknikal jika menembus di bawah 146.90, kemungkinan akan terus turun.

Mengenai peluang trading, saran saya adalah melihat secara bertahap. Dalam jangka pendek (hingga paruh pertama 2026), nilai tukar dolar kemungkinan akan berada dalam kondisi sideways secara struktural, yang sebenarnya merupakan peluang trading swing. Konflik geopolitik bisa menyebabkan dolar cepat menguat, tetapi ekspektasi penurunan suku bunga Fed akan menekan dolar. Investor agresif bisa melakukan jual beli di kisaran indeks dolar 95-100, memanfaatkan indikator teknikal untuk membeli saat rebound. Bagi yang lebih konservatif, sebaiknya menunggu dan mengamati, menunggu kebijakan Fed lebih jelas sebelum mengambil posisi.

Dari pandangan jangka menengah dan panjang, setelah paruh kedua 2026, dolar kemungkinan akan melemah secara bertahap. Strateginya adalah secara bertahap mengurangi posisi long dolar dan beralih ke aset mata uang non-AS atau komoditas. Jika tren de-dolarisasi global semakin cepat, posisi dolar sebagai mata uang cadangan akan melemah secara marginal, yang akan memberikan tekanan jangka panjang terhadap nilai tukar dolar.

Secara keseluruhan, tren nilai tukar dolar hingga 2026 sangat bergantung pada kebijakan Fed, data ekonomi, dan peristiwa geopolitik. Apakah dolar akan terus turun? Dari kondisi saat ini, tren jangka panjang memang cenderung turun, tetapi fluktuasi jangka pendek akan sangat sering terjadi. Kuncinya adalah tetap fleksibel, menyesuaikan strategi secara tepat waktu berdasarkan data dan peristiwa, agar dapat menangkap peluang trading di tengah volatilitas dolar.
USIDX0,03%
EURUSD-0,13%
GBPUSD-0,07%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan