semakin banyak orang Thailand mulai tertarik pada saham preferen setelah suku bunga berhenti naik, yang saya mengerti karena memberikan hasil tetap dan lebih aman daripada saham biasa. Tetapi sebelum menginvestasikan uang, harus memahami dengan jelas perbedaan kedua aset ini.



Saham biasa adalah hal yang paling dikenal orang. Saat Anda membeli saham biasa, Anda menjadi pemilik perusahaan (setidaknya sebagian). Hak istimewa yang baik adalah Anda memiliki hak suara dalam rapat pemegang saham, dan jika perusahaan menghasilkan banyak keuntungan, harga saham bisa melonjak hingga 10 kali, 100 kali, bahkan lebih dari itu. Tetapi imbalannya adalah risiko. Jika perusahaan bangkrut, Anda adalah orang terakhir yang menerima uang. Risiko kerugian sangat tinggi.

Saham preferen (Preferred Stock) berbeda. Ini adalah gabungan antara obligasi dan saham. Secara hukum, Anda adalah pemilik, tetapi secara praktis Anda berfungsi seperti kreditur yang memberi pinjaman dengan imbal hasil tetap. Keuntungannya adalah Anda selalu menerima dividen terlebih dahulu daripada pemegang saham biasa, dan jika perusahaan bangkrut, Anda akan mendapatkan kembali uang Anda lebih dulu.

Masalah dividen sangat penting. Saham preferen biasanya memiliki dividen kumulatif. Jika suatu tahun perusahaan tidak membayar, jumlah tersebut akan ditunda dan harus dibayar penuh nanti. Ini lebih baik daripada saham biasa yang dividen-nya tidak tetap. Selain itu, saham preferen yang dapat dikonversi memberi Anda opsi untuk mengubahnya menjadi saham biasa jika melihat bahwa saham induk sedang naik pesat.

Namun, tidak semua hal berjalan mulus. Saham preferen memiliki risiko yang harus diperhatikan. Pertama adalah likuiditas. Contohnya, KTB-P, beberapa hari tidak ada transaksi sama sekali. Jika Anda menginvestasikan sejumlah besar uang dan ingin menjual dengan cepat, mungkin Anda tidak bisa keluar atau harus menjual dengan harga diskon.

Kedua adalah risiko suku bunga. Harga saham preferen berbanding terbalik dengan suku bunga. Saat suku bunga naik, harganya akan turun karena orang menjual saham tersebut untuk membeli obligasi yang memberikan bunga lebih baik. Ada juga risiko panggilan (call risk), di mana perusahaan memiliki hak untuk membeli kembali saham tersebut. Biasanya terjadi saat suku bunga pasar turun, dan perusahaan ingin meminjam uang baru dengan bunga lebih murah, sehingga Anda kehilangan peluang mendapatkan hasil yang lebih baik.

Contohnya adalah SCB yang melakukan Tender Offer dan mengubahnya menjadi SCBx. Pemegang SCB-P memiliki kesempatan untuk mengkonversi, tetapi mereka yang tidak mau konversi atau tidak tahu akan menghadapi saham yang dicabut dari pasar, menjadi saham di luar pasar yang sulit diperdagangkan.

Kasus RABBIT-P juga rumit. Ada syarat konversi dan hak suara yang mungkin berkurang sesuai kondisi. Ini adalah saham preferen yang harus dipelajari secara mendalam.

Lalu, mana yang harus dipilih? Tergantung pada tujuan Anda. Jika ingin pertumbuhan jangka panjang dan percaya pada bisnis serta mampu menahan volatilitas, saham biasa adalah pilihan. Jika sudah pensiun dan menginginkan aliran kas tetap tanpa harus memantau layar, saham preferen mungkin lebih cocok, tetapi harus memilih yang likuid dan memiliki dasar yang kuat.

Yang terpenting adalah belajar secara mendalam. Jangan langsung menginvestasikan uang karena dividen tinggi, karena ada risiko tersembunyi yang tidak terpikirkan. Pahami struktur modal, baca peraturan, periksa likuiditas, lalu buat keputusan dengan hati-hati.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan