Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
CFD
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Pre-IPOs
Buka akses penuh ke IPO saham global
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Promosi
AI
Gate AI
Partner AI serbaguna untuk Anda
Gate AI Bot
Gunakan Gate AI langsung di aplikasi sosial Anda
GateClaw
Gate Blue Lobster, langsung pakai
Gate for AI Agent
Infrastruktur AI, Gate MCP, Skills, dan CLI
Gate Skills Hub
10RB+ Skills
Dari kantor hingga trading, satu platform keterampilan membuat AI jadi lebih mudah digunakan
GateRouter
Pilih secara cerdas dari 40+ model AI, dengan 0% biaya tambahan
Belakangan ini saya memperhatikan sebuah fenomena yang cukup layak dibahas, yaitu topik kejatuhan besar saham teknologi AS di berbagai komunitas investasi besar menjadi ramai. Banyak orang bertanya apa yang sebenarnya terjadi, mengapa saham AS bisa turun seperti ini, apakah pasar saham Taiwan juga akan terbawa arus, dan apa yang harus dilakukan dengan emas dan obligasi yang mereka pegang. Daripada menunggu jawaban secara pasif, lebih baik kita sendiri menyusun dan memahami pertanyaan-pertanyaan ini dengan jelas.
Pertama, mari kita bahas alasan utama di balik kejatuhan besar saham teknologi AS. Penurunan yang terjadi awal tahun ini, secara kasat mata terlihat karena meningkatnya konflik geopolitik, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran, langsung memblokir sekitar seperlima jalur pengangkutan minyak dunia. Harga minyak melonjak, biaya perusahaan pun ikut naik, terutama di bidang pengangkutan dan manufaktur. Pasar mulai khawatir akan munculnya kutukan "inflasi stagflasi", jika inflasi dan resesi ekonomi datang bersamaan, itu akan menjadi mimpi buruk bagi para investor.
Namun, ini hanya tampak dari permukaan. Masalah yang lebih dalam adalah, valuasi saham teknologi terkait AI sudah sejak lama melambung tinggi. Price-to-earnings ratio (PER) perusahaan teknologi besar jauh di atas rata-rata sejarah, dan pasar mulai meragukan apakah kemajuan komersialisasi AI bisa mengikuti kecepatan pengeluaran modal. Ditambah lagi, sikap Federal Reserve (The Fed) juga berubah. Pada rapat FOMC bulan Maret, mereka mengumumkan suku bunga tetap, bahkan memberi sinyal kemungkinan tidak akan banyak menurunkan suku bunga, dan jika inflasi tidak terkendali, mungkin akan menaikkan suku bunga lagi. Ini langsung mematahkan mimpi investor tentang penurunan suku bunga yang berkelanjutan, dan gelombang profit-taking di saham teknologi pun mulai terjadi.
Kalau bicara tentang kejatuhan besar di pasar saham AS, kita harus melihat ke belakang sejarah. Pada tahun 1929, Great Depression, indeks Dow Jones jatuh 89% dalam waktu lebih dari tiga puluh bulan, utamanya karena gelembung leverage pecah dan perang dagang. Pada Black Monday 1987, reaksi berantai dari perdagangan algoritmik menyebabkan Dow Jones anjlok 22,6% dalam satu hari. Pada tahun 2000, gelembung dot-com meledak, Nasdaq dari lebih dari 5100 poin turun ke sekitar 1100 poin, dan butuh beberapa tahun untuk pulih. Krisis subprime 2008 lebih parah lagi, Dow Jones dari lebih dari 14.000 poin jatuh ke sekitar 6.800 poin. Pada pandemi 2020, ketiga indeks utama sempat dihentikan perdagangan otomatis, tetapi berkat langkah besar The Fed dalam menyelamatkan pasar, dalam setengah tahun indeks mencapai rekor tertinggi lagi. Tahun lalu, kenaikan suku bunga juga cukup keras, S&P 500 turun 27%. Awal tahun ini, kebijakan perdagangan Trump yang agresif memicu kekhawatiran tentang gangguan rantai pasok global, menyebabkan Dow Jones anjlok lebih dari 5% dalam satu hari.
Melihat kasus-kasus sejarah ini, ada pola yang sangat jelas: sebelum kejatuhan besar, pasar biasanya membentuk gelembung besar, harga aset jauh dari fundamental. Ketika kebijakan berubah arah atau terjadi guncangan eksternal, itu menjadi tetesan terakhir yang memecahkan gelembung tersebut.
Lalu, bagaimana dengan pasar saham Taiwan? Jujur saja, korelasi antara pasar Taiwan dan AS sangat tinggi. Kejatuhan besar di pasar AS akan mempengaruhi pasar Taiwan melalui tiga jalur utama. Pertama, penyebaran sentimen, investor global secara bersamaan menjadi panik dan akan menjual aset berisiko seperti saham Taiwan. Kedua, keluar modal dari investor asing, yang perlu mengelola likuiditas dan sering menarik dana dari pasar negara berkembang, sehingga pasar Taiwan paling rentan. Ketiga, hubungan ekonomi langsung. AS adalah pasar ekspor terbesar Taiwan, jika ekonomi AS resesi, permintaan terhadap produk Taiwan akan berkurang, terutama di bidang teknologi dan manufaktur. Tahun ini, saat saham teknologi AS jatuh besar, saham berat seperti TSMC dan MediaTek juga ikut terguncang, dan pasar Taiwan sempat turun ratusan poin.
Saat pasar saham AS jatuh, aliran dana juga mengikuti pola tertentu. Biasanya, dana dari aset berisiko tinggi seperti saham dan kripto akan mengalir ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah AS, dolar AS, dan emas. Dalam obligasi, investor yang semakin sadar risiko akan membeli obligasi pemerintah AS, terutama obligasi jangka panjang, sehingga harga obligasi naik dan imbal hasilnya turun. Data historis menunjukkan, setelah pasar saham jatuh besar, dalam enam bulan imbal hasil obligasi AS biasanya turun sekitar 45 basis poin.
Dolar AS saat masa panik global adalah mata uang safe haven utama. Investor menjual aset negara berkembang dan menukarnya dengan dolar, sehingga dolar menguat. Ditambah lagi, gelombang deleveraging akibat kejatuhan pasar saham menyebabkan banyak posisi leverage harus dilikuidasi, yang membutuhkan pembelian dolar secara besar-besaran dan mendorong nilai tukar dolar naik lagi.
Dalam hal emas, sebagai aset safe haven tradisional, saat pasar saham jatuh, investor biasanya membeli emas untuk lindung nilai. Tapi ada satu detail penting: jika kejatuhan besar terjadi bersamaan dengan ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed, emas akan mendapatkan manfaat ganda. Sebaliknya, jika kejatuhan terjadi saat awal kenaikan suku bunga, tingkat bunga yang tinggi akan melemahkan daya tarik emas. Selain itu, dalam kondisi panik ekstrem, investor mungkin menjual emas untuk memenuhi margin call, yang memang pernah terjadi. Tapi secara jangka panjang, selama konflik geopolitik belum terselesaikan dan inflasi tetap tinggi, emas tetap menjadi pilihan utama untuk melawan risiko.
Komoditas biasanya mengikuti tren pasar saham, turun saat pasar jatuh karena pertumbuhan ekonomi melambat mengurangi permintaan terhadap minyak, tembaga, dan bahan mentah lainnya. Tapi ada pengecualian, jika penurunan harga saham disebabkan gangguan pasokan akibat geopolitik, harga minyak bisa malah naik melawan tren, menciptakan situasi stagflasi. Kripto dalam beberapa tahun terakhir lebih mirip saham teknologi, saat pasar saham jatuh, investor cenderung menjual aset kripto dan menguangkan, sehingga harganya pun biasanya turun secara signifikan.
Lalu, bagaimana dengan investor ritel? Menurut saya, daripada mencoba memprediksi dasar bottom atau ikut-ikutan jual beli secara spekulatif, lebih baik kembali ke prinsip fundamental. Pertama, periksa kembali kemampuan risiko dan keseimbangan portofolio Anda. Pertimbangkan menambah aset defensif seperti obligasi korporat berkualitas tinggi atau obligasi pemerintah, untuk mendapatkan pendapatan stabil, atau menempatkan dana di aset yang terkait inflasi untuk melindungi dari gejolak energi akibat konflik geopolitik.
Kedua, perhatikan bobot saham teknologi. Jika valuasi saham AI terlalu tinggi, dan jalur suku bunga belum pasti, pasar bisa sangat volatile. Diversifikasi risiko ke sektor defensif seperti utilitas dan kesehatan juga penting. Lindungi risiko dengan menggunakan CFD, opsi, atau ETF inversi untuk menghadapi kemungkinan penurunan ekstrem. Satu lagi, simpan sebagian dana tunai, agar saat pasar sangat jatuh, kita bisa membeli dengan harga murah.
Melihat sejarah, setiap kejatuhan besar di pasar saham meskipun penyebabnya berbeda, biasanya didorong oleh gelembung aset, perubahan kebijakan moneter, dan guncangan eksternal yang bersamaan. Dari Great Depression 1929 hingga konflik geopolitik tahun ini, setiap gelombang pasar mengingatkan kita bahwa manajemen risiko sama pentingnya dengan mencari imbal hasil. Menambah aset defensif secara moderat, diversifikasi risiko di saham teknologi, memanfaatkan alat lindung nilai, dan menyisihkan dana tunai adalah strategi yang relatif stabil dalam kondisi pasar ekstrem. Jika ingin melakukan hedging dengan short selling, bisa juga menggunakan alat yang mudah diakses, asalkan memiliki rencana pengelolaan risiko yang jelas.