Belakangan ini melihat ada yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan jika saham AS delisting, pertanyaan ini sebenarnya cukup banyak orang pedulikan. Saya akan merangkum pemahaman saya tentang delisting saham, semoga bisa membantu semua.



Sejujurnya, proses delisting saham bukan terjadi secara mendadak, melainkan melalui proses yang cukup panjang. Umumnya, bursa akan mengeluarkan surat peringatan terlebih dahulu, nama saham akan diberi tanda “*” atau “ST”, saat itu kita harus waspada. Setelah itu, perusahaan memiliki masa remediasi selama 3 sampai 6 bulan, bisa memperbaiki laporan keuangan, menarik investor, dan memperbaiki kondisi keuangan. Jika masih belum mencapai target perbaikan, bursa akan mengadakan rapat peninjauan untuk memutuskan apakah benar-benar akan delisting. Seluruh proses ini bisa memakan waktu beberapa bulan, jadi mengikuti pemberitahuan dari broker dan pengumuman bursa sangat penting untuk memantau perkembangan.

Mengapa saham bisa delisting? Penyebab umum ada beberapa. Pertama, laporan keuangan perusahaan tidak memenuhi syarat atau terus-menerus merugi, misalnya Chesapeake Energy Corporation mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 2020, lalu menyelesaikan restrukturisasi pada 2021. Ada juga karena perusahaan tidak mengungkapkan informasi sesuai aturan atau melakukan pelanggaran besar, seperti Luckin Coffee yang karena kecurangan keuangan, pada April 2020 keluar dari NASDAQ. Selain itu, ada perusahaan yang delisting karena diakuisisi atau memilih privatisasi secara sukarela, misalnya Dell Technologies yang keluar dari NASDAQ pada 2013 dan menjadi perusahaan privat.

Banyak orang mendengar tentang delisting saham AS lalu mengira modal hilang begitu saja, tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Nilai saham yang delisting tergantung pada alasan delisting itu sendiri. Jika perusahaan secara sukarela delisting untuk privatisasi dan saham yang beredar di pasar hanya 10% sampai 20%, nilai saham yang dimiliki investor malah bisa meningkat, karena pemegang saham mayoritas mungkin akan membeli kembali saham tersebut dengan harga tinggi dalam periode tertentu. Tapi jika perusahaan bangkrut dan delisting, situasinya lebih buruk, karena dalam proses kebangkrutan, investor saham biasa biasanya menjadi pemegang terakhir yang mendapatkan sisa dana, sehingga nilainya hampir nol.

Kalau menghadapi perusahaan dengan kapitalisasi pasar sangat rendah atau harga saham sangat murah, likuiditasnya akan sangat buruk, sedikit orang yang mau membeli. Kalau beruntung, bisa menemukan pembeli di pasar dalam atau luar negeri, tapi kalau tidak beruntung, bisa mengalami kerugian besar. Jika perusahaan delisting karena pelanggaran, posisi kepemilikan investor kemungkinan akan dibekukan, tidak bisa dikonversi ke uang tunai, dan harus menunggu proses hukum selesai dulu.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika saham AS delisting? Saya sarankan beberapa langkah praktis. Pertama, pantau pengumuman perusahaan secara ketat, terutama tanggal delisting dan langkah selanjutnya. Kedua, jika perusahaan mengajukan skema buyback, pastikan menyelesaikan prosedur dalam batas waktu pengumuman, karena melewati batas bisa kehilangan hak buyback. Ketiga, jika perusahaan beralih ke pasar over-the-counter (OTC), meskipun volume transaksi lebih rendah, tetap bisa membeli dan menjual melalui broker, dan ada kemungkinan perusahaan akan listing kembali di masa depan. Keempat, jika perusahaan bangkrut atau sedang likuidasi, harus menunggu proses likuidasi selesai, tapi jumlah yang bisa dikembalikan biasanya terbatas.

Kalau perusahaan tidak menawarkan opsi buyback atau OTC, investor tetap bisa memegang saham dan memantau perkembangan selanjutnya, atau melakukan transfer secara pribadi dengan sesama pemegang saham. Jangan lupa juga laporkan pajak, jika tidak bisa mendapatkan kembali investasi, bisa dilaporkan sebagai kerugian investasi untuk mengurangi pajak capital gain.

Agar terhindar dari situasi ini, yang paling penting adalah melakukan analisis menyeluruh terhadap prospek bisnis, kondisi keuangan, dan apakah perusahaan memenuhi syarat listing bursa sebelum membeli saham. Selain itu, lakukan diversifikasi portofolio secara rasional, jangan terlalu terkonsentrasi pada satu saham saja. Sesuaikan dengan toleransi risiko, bisa mempertimbangkan kontrak CFD, saham, reksa dana, dan deposito bank sebagai alokasi yang seimbang.

Secara umum, tidak ada jawaban pasti tentang apa yang harus dilakukan jika saham AS delisting. Kuncinya adalah selalu mengikuti informasi terbaru, memahami alasan delisting, dan mengambil langkah sesuai kondisi nyata. Kalau ada peluang, segera ambil tindakan, dan jika ada potensi keuntungan, pertimbangkan untuk menahan dan menunggu harga kembali tinggi. Yang terpenting, jangan panik dan melakukan operasi secara sembarangan karena saham delisting, analisis rasional adalah kunci utama.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan