Belakangan ini saya sedang melihat data nilai tukar yen Jepang, dan menemukan bahwa fluktuasinya selama beberapa tahun terakhir cukup menarik. Sejak tahun 2012 saat Abe naik ke tampuk kekuasaan dan menerapkan kebijakan stimulus ekonomi, yen mulai mengalami depresiasi jangka panjang. Saat itu targetnya sangat jelas, yaitu mendukung ekspor melalui pelonggaran moneter, sehingga yen dari angka psikologis 100 terus merosot hingga 80 pada tahun 2015.



Namun tren ini tidak berlanjut terus-menerus. Pada tahun 2016, ketidakpastian ekonomi global meningkat, sentimen safe haven menguat, dan yen sebagai mata uang safe haven kembali menguat. Dari tahun 2018 hingga pertengahan 2021, kebijakan bank sentral AS dan Jepang hampir sinkron, sehingga yen tetap relatif stabil. Tetapi mulai paruh kedua 2021, situasinya berbalik. The Federal Reserve menaikkan suku bunga, sementara Bank of Japan tetap mempertahankan suku bunga rendah, yang menyebabkan divergensi kebijakan dan yen kembali mengalami depresiasi besar-besaran, bahkan mencapai level terendah dalam 34 tahun pada April 2024.

Melihat performa pasangan mata uang USD/JPY, sejak 2022 tren ini cenderung naik terus. Pada Maret 2022, The Fed mulai agresif menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, sementara BOJ tetap mempertahankan kebijakan suku bunga negatif, sehingga selisih suku bunga ini menjadi pendorong utama depresiasi yen. Pada Oktober 2022, USD/JPY melonjak ke 151,94, menyentuh level tertinggi sejak April 1990. Meski kemudian mengalami koreksi, tren umumnya tetap naik.

Mengenai prediksi yen, ada berbagai pandangan di pasar. Beberapa lembaga analisis teknikal memprediksi USD/JPY akan berfluktuasi antara 151 hingga 175 pada 2024, dan kemungkinan naik ke 176-186 pada 2025, bahkan bisa menembus 192-211 pada 2026. Tapi prediksi dari bank-bank besar internasional cenderung lebih konservatif, mereka memperkirakan yen memiliki ruang rebound dan USD/JPY akan kembali ke kisaran 138-140 pada akhir tahun.

Dari sisi fundamental, ekonomi Jepang memang menghadapi tekanan. Pada kuartal keempat 2023, GDP Jepang menyusut 0,1% secara kuartalan dan turun 0,4% secara tahunan, bahkan melampaui Jerman dan menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia. Kelemahan ekonomi ini, ditambah sikap hati-hati Bank of Japan, memberi tekanan pada yen.

Jika ingin terlibat dalam trading terkait yen, perlu memperhatikan fundamental dan teknikal secara bersamaan. Dari sisi fundamental, fokus pada data GDP Jepang, inflasi, ketenagakerjaan, dan pantau ketat keputusan suku bunga BOJ. Dari sisi teknikal, bisa menggunakan indikator seperti moving average, MACD, RSI. Misalnya, pada grafik weekly USD/JPY berada dalam tren naik, MACD berada di zona positif dan mengarah ke atas, yang menunjukkan tren kenaikan masih berlanjut.

Namun, perlu diingat bahwa prediksi tren yen untuk 2024 dan seterusnya sangat tidak pasti. Data ketenagakerjaan AS, perubahan kebijakan BOJ, risiko geopolitik—semua faktor ini bisa mengubah arah nilai tukar. Daripada terburu-buru mengikuti tren naik, lebih baik menunggu sinyal yang lebih jelas. Baru-baru ini, BOJ mempertimbangkan penyesuaian kebijakan, dan selisih suku bunga AS-Japan mulai menyempit, yang bisa memberi peluang istirahat bagi yen. Yang terpenting adalah tetap fleksibel dalam strategi dan tidak keras kepala pada satu arah saja.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan