Belakangan ini banyak pemula bertanya kepada saya, bagaimana menilai apakah sebuah saham mahal atau murah? Sebenarnya selain melihat harga saham itu sendiri, yang lebih penting adalah memahami konsep perhitungan nilai bersih.



Nilai buku per saham (BVPS) sebenarnya adalah jumlah aset perusahaan yang dibagi rata ke setiap saham. Bayangkan sebuah perusahaan dilikuidasi, setelah dikurangi semua utang, sisa asetnya dibagi kepada pemegang saham, berapa uang yang bisa didapatkan per saham, itulah nilai bersih. Cara perhitungannya sebenarnya sangat sederhana: bagi ekuitas pemegang saham dengan jumlah saham beredar, atau bisa juga dengan (total aset - total utang) ÷ jumlah saham beredar.

Saya menemukan banyak orang mudah bingung antara perhitungan nilai bersih dan harga saham. Sebenarnya nilai bersih mencerminkan aset buku yang terkumpul dari masa lalu, sedangkan harga saham mencerminkan ekspektasi pasar terhadap masa depan perusahaan. Kedua hal ini sering menyimpang. Misalnya sebuah perusahaan teknologi, nilai bersihnya mungkin tidak tinggi, tapi karena memiliki teknologi dan merek yang kuat, harga sahamnya bisa sangat mahal. Sebaliknya, sebuah perusahaan manufaktur tradisional dengan nilai bersih tinggi, tapi jika industri sedang menurun, harga sahamnya tetap bisa jatuh.

Jadi, perhitungan nilai bersih sendiri memiliki keterbatasan. Semakin tinggi nilai bersih tidak selalu berarti lebih baik, yang penting adalah melihat industri apa yang digeluti perusahaan. Untuk industri yang kapital intensif seperti keuangan, pelayaran, baja, perhitungan nilai bersih sangat berguna karena nilai perusahaan utamanya berasal dari aset keras. Tapi untuk perusahaan perangkat lunak, teknologi, dan konten, hanya melihat nilai bersih terlalu sempit, karena nilai inti mereka berasal dari aset tak berwujud dan potensi pertumbuhan di masa depan.

Saya sendiri saat memilih saham biasanya menggabungkan perhitungan nilai bersih dan rasio harga terhadap nilai buku (PBR). PBR adalah harga saham dibagi dengan nilai buku per saham, angka yang lebih rendah menunjukkan relatif lebih murah. Tapi ini hanya langkah awal, selanjutnya harus melihat kondisi industri, tren keuntungan perusahaan, dan daya saingnya. Jangan hanya karena PBR rendah langsung membeli, karena bisa saja menjerumuskan ke dalam perangkap.

Contohnya, PBR JPM sekitar 1.94, Ford sekitar 1.19, General Electric malah lebih rendah, hanya 0.70. Tampaknya semuanya murah, tapi logika di baliknya sangat berbeda. PBR rendah pada saham keuangan mungkin mencerminkan ketidakpastian prospek ekonomi, sedangkan pada perusahaan otomotif tradisional bisa karena industri sedang bertransformasi. Jadi, perhitungan nilai bersih hanyalah alat, bukan keputusan utama.

Terakhir, satu poin penting, perhitungan nilai bersih dan laba per saham (EPS) tidak boleh disamakan. Nilai bersih melihat aspek aset, sedangkan EPS melihat aspek keuntungan. Sebuah perusahaan bisa memiliki nilai bersih tinggi tapi laba kecil, menandakan aset tidak digunakan secara efektif; atau nilai bersihnya tidak tinggi tapi EPS-nya kuat, menunjukkan model bisnis yang berbasis aset ringan dan efisien. Kedua indikator ini harus dilihat bersamaan untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya.

Singkatnya, perhitungan nilai bersih adalah titik awal untuk memahami nilai saham, tapi bukan akhir dari segalanya. Keputusan investasi yang sebenarnya harus mempertimbangkan nilai bersih, PBR, EPS, ROE, dan karakteristik industri secara keseluruhan, agar bisa mendekati nilai sebenarnya dari perusahaan.
F-8,32%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan