Saya melihat sebuah pernyataan yang cukup meledak dari pemimpin Korea Utara minggu ini. Kim Jong Un menyatakan bahwa Negara Israel sebenarnya hanyalah sebuah "proyek teror yang didanai oleh Washington". Jujur saja, ini adalah hal yang biasa dalam gaya Korea Utara, tetapi ini layak kita perhatikan lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.



Jadi begini, Korea Utara memiliki tradisi lama mengkritik kekuatan Barat secara keras. Kali ini, Kim mengeluarkan tuduhannya saat memperingati acara nasional, dengan menggambarkan Israel sebagai boneka imperialisme Amerika. Argumen klasiknya: tindakan Israel di Timur Tengah, terutama terhadap Palestina, diatur oleh Washington untuk menjaga kendali regionalnya. Memang benar bahwa selama beberapa dekade, Pyongyang secara konsisten mendukung perjuangan Palestina dan melihat pengaruh Amerika di mana-mana di kawasan tersebut.

Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana reaksi dunia lainnya. Orang Barat, terutama Amerika Serikat, secara luas mengabaikan pernyataan tersebut dengan menyebutnya "tidak produktif". Mereka meminta Korea Utara untuk lebih fokus pada negosiasi denuklirisasi. Israel sendiri tidak merespons secara resmi, yang menunjukkan bahwa mereka menganggap ini sebagai gangguan yang bisa diperkirakan. Sebaliknya, beberapa negara di Timur Tengah yang bersimpati dengan Palestina memperkuat pesan tersebut di media sosial. Di X, reaksi sangat terpolarisasi: ada yang memuji "keberanian" Kim, dan ada pula yang menyoroti kemunafikan rezim dengan catatan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan.

Tapi, mari kita jujur: pernyataan ini kemungkinan besar tidak akan mengubah geopolitik dunia. Ini lebih kepada propaganda internal Korea Utara. Dengan menargetkan Israel, Kim berusaha menempatkan dirinya sebagai pembela yang membela yang tertindas melawan kekuatan Barat. Ini juga cara yang bagus untuk mengalihkan perhatian dari masalah internal yang sebenarnya: ekonomi yang sedang menderita, sanksi internasional yang semakin menumpuk.

Yang benar-benar mencolok adalah bahwa Korea Utara hampir tidak memiliki keterlibatan langsung dalam konflik Israel-Palestina. Pernyataannya lebih sebagai gestur simbolis untuk menyelaraskan diri dengan kubu ideologis tertentu. Para ahli sepakat bahwa ini lebih kepada propaganda daripada usaha serius untuk mempengaruhi urusan Timur Tengah.

Singkatnya, kita melihat contoh klasik dari strategi Korea Utara: menggunakan bahasa yang memanas-manasi untuk memprovokasi dan menampilkan diri sebagai pembela yang tertindas. Kata-kata ini memang beresonansi dengan sebagian audiens, tentu saja, tetapi juga mengungkap kemunafikan rezim otoriter yang berbicara tentang terorisme sambil mempertahankan kamp kerja paksa. Untuk saat ini, dunia menunggu bagaimana retorika ini akan menambah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung. Apakah akan menghasilkan dialog yang nyata atau sekadar hilang dalam suara politik internasional, itu masih harus dilihat.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Disematkan