Situasi Iran-AS sedang berada di persimpangan yang sangat tegang: negosiasi diplomatik terjebak dalam kebuntuan, sementara ketegangan militer di laut terus meningkat.



Tiga dinamika inti

Respon keras Iran: Pada 10 Mei, Iran melalui mediasi Pakistan secara resmi menolak proposal AS yang bertujuan mengakhiri perang. Respon keras Trump: Trump dengan cepat merespons di media sosial, menyatakan bahwa usulan Iran “sama sekali tidak dapat diterima”.

Peningkatan ketegangan militer: Kedua belah pihak terus melakukan operasi militer di dekat Selat Hormuz. Militer AS pada 7 Mei memaksa menyeberangi selat, dihentikan oleh Garda Revolusi Iran; pada 11 Mei dini hari, sebuah kapal dagang AS diserang drone Iran di Teluk Persia; sekaligus, pasukan pertahanan udara Iran menembak jatuh sebuah drone pengintai musuh.

Kesenjangan tuntutan kedua belah pihak sangat besar, dan ini adalah alasan utama mengapa kebuntuan sulit dipecahkan. Tuntutan utama Iran terutama berkisar pada:

Kedaulatan dan ganti rugi: Menuntut AS mengakui kedaulatan Iran atas Selat Hormuz dan membayar ganti rugi perang.

Penghapusan sanksi: Menuntut AS mencabut semua sanksi secara menyeluruh dalam 30 hari dan membebaskan aset yang dibekukan.

Gencatan senjata dan negosiasi: Menuntut agar dilakukan negosiasi tahap berikutnya termasuk masalah nuklir setelah jaminan gencatan senjata permanen dan penarikan militer AS.

Israel: Memperingatkan Inggris dan Prancis agar tidak melakukan intervensi militer, sementara Perdana Menteri Israel Netanyahu menyatakan operasi militer AS dan Israel belum berakhir.

Proposal dan posisi AS meliputi: Tuntutan utama: Iran harus setuju untuk menangguhkan kegiatan pengayaan uranium selama 15-20 tahun dan membongkar sebagian fasilitas nuklir. Prasyarat negosiasi: Gedung Putih bersikeras agar Iran memberikan komitmen awal terkait penyelesaian akhir program nuklir dan cadangan uranium tinggi. Tekanan militer: Telah mengirim lebih dari 20 kapal perang untuk melakukan blokade laut, meminta 61 kapal dagang mengubah jalur, dan menyebabkan 4 kapal kehilangan kemampuan berlayar.

Perkembangan terbaru dan dampaknya: Kontroversi masalah nuklir: Iran bersikeras semua diskusi terkait program nuklir harus dilakukan dalam negosiasi lanjutan. Iran saat ini memiliki cadangan uranium tinggi dengan kemurnian hingga 60%, pernah mengusulkan untuk mengencerkan sebagian dan memindahkan sebagian ke negara ketiga, dengan syarat AS harus mengembalikannya jika keluar dari kesepakatan di masa depan. Namun, pejabat Iran membantah laporan tentang transfer uranium dan menolak permintaan AS untuk membongkar fasilitas nuklir. Ketidakstabilan pasar energi: Karena kegagalan negosiasi, harga minyak melonjak tajam. Harga minyak Brent sempat melambung lebih dari 3%, menembus USD 104 per barel.

Respon masyarakat internasional: Mediator potensial: Arab Saudi, Qatar, dan negara lain aktif berupaya menengahi, berharap dapat mencapai pemahaman minimal antara AS dan Iran. Dinamika kekuatan besar: Trump berencana mengunjungi China dari 13 hingga 15 Mei. Diperkirakan masalah Iran akan menjadi salah satu topik utama diskusi antara pemimpin AS dan China, dan AS mungkin berharap China memanfaatkan pengaruhnya terhadap Iran untuk mendorong tercapainya kesepakatan. Perpecahan sekutu: Prancis menyatakan “tidak pernah mempertimbangkan” penempatan militer di Selat Hormuz. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan akan menempatkan kapal destroyer “HMS Daring” secara “pra-penempatan” di Timur Tengah.
ETH-2,43%
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • 1
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
RedAdeman
· 05-11 14:59
Langsung saja serang 👊
Lihat AsliBalas0
  • Sematkan