Berita tentang lepas dari warisan era emas memang sangat menarik. Menurut laporan Incrementum tahun lalu, prospek harga emas pada tahun 2030 cukup optimis.



Ketika tatanan politik dan ekonomi dunia terguncang, emas kembali mendapatkan perhatian. Emas sedang dinilai ulang sebagai aset mata uang yang sebenarnya, tanpa risiko counterparty. Terutama dengan faktor-faktor seperti defisit anggaran AS, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, dan potensi melemahnya dolar.

Bagian yang menarik adalah analisis bahwa emas masih berada di tahap tengah dari pasar bullish. Menurut teori Dow, setelah tahap akumulasi, saat ini sedang memasuki tahap partisipasi massa, dan laporan media pun semakin positif serta volume perdagangan meningkat. Harga emas telah naik 92% dalam lima tahun terakhir, tetapi ini bukan akhir dari kenaikan.

Permintaan dari bank sentral adalah pilar utama. Mereka membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahun sejak 2022. Terutama dipimpin oleh bank sentral Asia, dan menurut analisis Goldman Sachs, China saja terus membeli sekitar 40 ton per bulan. Dengan adanya permintaan struktural seperti ini, prospek harga emas tahun 2030 pun cerah.

Scenario utama dalam laporan ini memperkirakan harga sekitar 4.800 dolar pada akhir 2030, dan dalam skenario inflasi bisa mencapai 8.900 dolar. Karena harga emas saat ini sudah melewati target jangka menengah, kemungkinan skenario inflasi menjadi lebih realistis.

Yang menarik adalah konsep 'shadow gold price'. Ini adalah perhitungan berapa harga emas seharusnya jika total uang beredar didukung penuh oleh emas. Jika hanya 40% dari uang M0 AS didukung emas, maka harga emas harus sekitar 8.160 dolar. Saat ini, proporsi aset emas dalam basis uang AS hanya sekitar 14,5%.

Kebijakan pemerintahan Trump juga berpengaruh. Peningkatan tarif, rencana devaluasi dolar, dan pengurangan pengeluaran pemerintah melalui program DOGE semuanya berpotensi menyebabkan ekspansi moneter. Begitu pula di Eropa, di mana kebijakan konservatif fiskal Jerman mulai dilonggarkan, dan penerbitan obligasi meningkat pesat.

Dari sudut pandang portofolio, ini juga menarik. Mengusulkan pergeseran dari alokasi tradisional 60% saham dan 40% obligasi ke diversifikasi baru, misalnya 15% emas, 10% emas berbasis kinerja, dan 5% Bitcoin. Karena selama pasar bullish, emas menunjukkan rata-rata pengembalian relatif +42,55%.

Secara jangka pendek, ada potensi koreksi. Laporan memperkirakan harga emas bisa turun hingga 2.800 dolar, tetapi ini hanyalah bagian dari proses normalisasi pasar bullish dan tidak akan mempengaruhi tren jangka panjang. Risiko jangka pendek termasuk penurunan permintaan dari bank sentral, meredanya ketegangan geopolitik, dan ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan.

Kesimpulannya, prospek harga emas 2030 didukung oleh reorientasi tatanan keuangan global, ekspansi moneter, dan pembelian strategis oleh bank sentral. Emas tampaknya sedang berevolusi dari aset defensif menjadi aset pertumbuhan yang agresif. Logam mulia seperti perak dan saham pertambangan emas juga layak diperhatikan. Bagi yang tertarik, platform seperti Gate bisa menjadi tempat untuk memantau pergerakan aset terkait emas.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan