Belakangan ini saya memikirkan sebuah fenomena ekonomi yang menarik, yaitu konsep yang diajukan oleh Adam Smith—invisible hand, dalam bahasa Indonesia disebut tangan tak terlihat. Singkatnya, adalah kemampuan pasar untuk mengatur dirinya sendiri.



Bayangkan saja, setiap orang mengejar kepentingannya sendiri, pembeli ingin harga murah, penjual ingin mendapatkan keuntungan, tetapi keputusan masing-masing ini akhirnya bisa mencapai semacam keseimbangan, sumber daya pun secara otomatis dialokasikan. Tidak ada yang mengendalikan dari pusat, tetapi pasar yang efisien terbentuk. Inilah yang berperan sebagai invisible hand.

Contoh nyata misalnya, pemilik supermarket untuk mendapatkan keuntungan akan memikirkan bagaimana menyediakan barang segar dan murah untuk menarik pelanggan. Konsumen pun menggunakan hak pilih mereka, pergi ke toko mana yang lebih baik. Keduanya tidak berniat untuk berkontribusi pada masyarakat, tetapi hasilnya sumber daya dialokasikan secara efisien dan semua orang puas. Kekuatan pasar yang muncul secara spontan ini adalah manifestasi dari invisible hand.

Dalam bidang investasi pun lebih jelas. Setiap investor membeli dan menjual saham berdasarkan penilaiannya sendiri, keputusan yang tersebar ini akhirnya berkumpul menjadi harga pasar. Saham perusahaan bagus naik, modal mengalir terus ke sana; perusahaan buruk harga sahamnya turun, modal pun keluar. Tidak ada yang memberi perintah, tetapi sumber daya dialokasikan secara optimal. Proses ini mendorong inovasi dan mendorong persaingan.

Tentu saja, invisible hand tidak selalu sempurna. Dalam kenyataannya ada masalah ketidakseimbangan informasi, manipulasi pasar, eksternalitas, dan lain-lain. Misalnya, biaya polusi tidak dibayar oleh siapa pun, kesenjangan kekayaan pun semakin melebar. Ada juga perilaku manusia yang tidak rasional, perdagangan yang dipengaruhi emosi, semua ini bisa menyebabkan gelembung dan keruntuhan pasar.

Namun demikian, memahami logika invisible hand sangat penting bagi investor. Ia menjelaskan mengapa pasar bisa memperbaiki dirinya sendiri, dan juga menunjukkan kapan perlu intervensi manusia. Saat merancang strategi investasi, kita harus percaya pada kekuatan pasar, tetapi juga waspada terhadap keterbatasannya. Hanya dengan begitu kita bisa membuat keputusan yang lebih rasional di pasar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan