Sebuah fenomena menarik: beberapa bulan terakhir, dalam komunitas kripto dan kalangan investor ritel, sebuah grafik siklus pasar kuno bernama Benner Cycle menjadi viral. Ini sudah berusia lebih dari 150 tahun, tetapi kini menjadi alat prediksi tren pasar tahun 2025-2026 yang sedang populer. Saya menelusuri asal-usul grafik siklus pasar ini, dan memang layak untuk dibahas.



Cerita dimulai dari tahun 1873. Seorang petani bernama Samuel Benner mengalami kerugian besar dalam krisis keuangan tersebut. Setelah itu, dia mulai mempelajari pola ekonomi, dan pada tahun 1875 menerbitkan "Business Prophecies of the Future Ups and Downs in Prices", secara resmi mengemukakan teori siklus ini. Benner memprediksi pola pasar berdasarkan fluktuasi musiman harga komoditas pertanian, bahkan percaya bahwa siklus matahari mempengaruhi hasil panen dan harga. Kedengarannya agak mistis, tetapi dia meninggalkan satu kalimat di grafiknya: "Sure thing."—hanya satu kalimat ini, setelah hampir 200 tahun, kembali muncul dan memicu perbincangan.

Bagaimana cara menggunakan grafik ini? Singkatnya, grafik membagi tahun menjadi tiga kategori: garis A adalah tahun panik, garis B adalah tahun kemakmuran (waktu yang tepat untuk menjual), dan garis C adalah tahun resesi (waktu yang tepat untuk membeli). Meskipun pertanian modern sudah sangat berbeda, banyak orang mengklaim grafik ini secara akurat memprediksi Depresi Besar tahun 1929, Perang Dunia II, kejatuhan gelembung teknologi, bahkan kejatuhan COVID-19. Berdasarkan analisis beberapa investor, tahun 2023 adalah waktu terbaik untuk membeli, dan tahun 2026 diperkirakan menjadi puncak pasar berikutnya. Logika ini menyebar luas di komunitas kripto, banyak yang menggunakannya sebagai dasar argumen bahwa pasar akan melonjak besar pada 2025-2026.

Namun, kepercayaan terhadap grafik siklus pasar ini sedang diuji secara serius. Pada awal April 2025, ekonomi global tiba-tiba terguncang oleh kebijakan tarif, dan reaksi pasar sangat keras. Pada 7 April, total kapitalisasi pasar kripto dari 2,64 triliun dolar langsung jatuh ke 2,32 triliun dolar, bahkan ada yang menyebutnya sebagai "Senin Hitam". Pada saat yang sama, JPMorgan menaikkan kemungkinan resesi global tahun 2025 menjadi 60%, Goldman Sachs juga memperkirakan kemungkinan resesi dalam 12 bulan mencapai 45%—ini adalah level tertinggi sejak era pasca pandemi.

Dalam konteks ini, beberapa trader berpengalaman mulai mempertanyakan nilai grafik ini. Ada yang secara terbuka menyatakan bahwa grafik ini lebih banyak mengalihkan perhatian dan tidak memiliki makna praktis dalam trading. Tapi menariknya, meskipun menghadapi prediksi resesi dan volatilitas pasar, masih ada investor yang percaya pada teori siklus ini. Logika mereka sangat sederhana: pasar bukan hanya angka, tetapi juga emosi, ingatan, dan momentum. Selama cukup banyak orang mempercayai grafik ini, ia bisa menjadi efek self-fulfilling prophecy.

Dari data Google Trends, minat pencarian terhadap "Benner Cycle" mencapai puncaknya dalam beberapa waktu terakhir. Ini mencerminkan fenomena: saat ketidakpastian ekonomi dan politik meningkat, investor ritel semakin mencari alat yang memberi harapan dan arah—meskipun alat tersebut sudah berusia lebih dari 150 tahun. Apakah ini pengulangan sejarah, atau sekadar ilusi kolektif dari psikologi massa, masih sulit dipastikan.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan